Thursday, October 14, 2010

Lasagna, Lamp, Ly













Saya mendapati diri kacau ketika meminta bantuan kamu saat itu. Sinkronitas antara logika dan perasaan yang selama ini saya bangun telah begitu rapuh. Dari awal memang siap untuk digulingkan. Ada semacam keos dan saya menikmati itu tanpa mempedulikan perasaan kamu.

"Cari kado buat dia? Woo memang kapan ulang tahunnya? Lusa aku bisa. Kau jemput aku ya, Cez."
Kamu ceria seperti biasanya. Dan saya tidak habis pikir pernah menjadi penyebab hilangnya rona itu dari wajah kamu. Kini justru kamu yang mati-matian memplokamirkan kita sebagai sahabat.


***

"Jadi mau dibelikan apa?"

"Lampu"

...

"Lampu" kamu mengulang kata "lampu" seakan ada lelucon di sana yang luput dari mata saya.

"Kau pasti suka melihatnya. Aku tahu toko souvenir yang menjual lampu tidur, dan di sana lucu-lucu, Cez." Setelah itu sepanjang perjalanan kamu mengoceh panjang lebar tentang varian si lampu tidur. Dari bentuk, harga, warna, jenis, sampai-sampai saya curiga bahwa kamu adalah makelar lampu. Kamu menikmati itu.


***

"Itu tuh, Cez yang itu" kamu menunjuk pada satu lampu aneh di rak paling atas yang belakangan kamu sebut 'lampu lava'. Sekarang saya yakin setidaknya kamu adalah anak juragan lampu.

"Pilihan kamu bagus. Kalau begitu saya pilih yang ungu?"

"Jangan!" lontarmu tiba-tiba. Dan lagi-lagi ada yang luput dari mata saya. "Yang ungu lampuku. Jangan yang itu ya, Cez. Yang hijau saja. Atau yg biru. Please?" Orang yang mendengarkan kita pasti mengira saya hendak merebut sesuatu berharga dari tangan kamu. Kamu dewasa dan childish dalam sepersekian detik yang sama. Ini yang membuat saya betah berlama-lama dengan kamu.

Akhirnya saya mengalah, setelah bersaing sengit memperebutkan lampu lava ungu yang bahkan belum tentu kamu beli. Ah wanita!


***

Lucu sekali melihat ekspresi kelaparan pada wajah kamu. Dengan cepat kamu memutuskan memilih masakan Itali yang konon kamu sudah ngidam berminggu-minggu lamanya. Lima belas menit menunggu dan kamu begitu sumringah mendapati santapanmu pada akhirnya hadir di meja kita. Kamu diam sejenak, menutup mata, melavalkan syukur dalam hatimu.

"Makaaaaan!!!" Dengan sigap kamu membubuhi makananmu itu dengan saos tomat yang kamu bentuk meliuk-liuk. Lalu kamu terdiam lagi. "Cez?"

Eh?

"Kau mau nyobain? Ini belom aku kasih saos sambal kok. Jadi kau bisa cicip."

Kamu masih mengingat detail itu, Ly?

"Kamu makan saja, saya masih kenyang." Ada perasaan bersalah ketika pada akhirnya saya mengakui bahwa saya senang kamu masih mengingat hal-hal itu.

Kamu meneruskan parodi makanmu. Meliuk-liukkan kembali saos yang kini warnanya lebih muda. Sesuap dan kamu berhenti lagi. "Kau yakin? Yang sebelah sini belum kena saos sambal kok, Cez" kamu keukeuh menyuruh saya mencobanya.

"Makanlah," kata saya lagi dengan senyum lebar.

"Huh yaudah kalo nggak mau. Padahal lasagna di sini enak lho... Nyaaamm..."

Lasagna...


***

"Kau tidak pake jaket? Tidak bawa juga?" Kamu nampak kesal ketika malam itu saya mengantarmu pulang. "Punya badan disayang dong, Cez. Aku pinjemin jumper ya?" Kamu memaksa. Seolah kamu yang akan menyebabkan saya jadi sakit. Dan saya yakin kamu akan mengurung diri berhari-hari di dalam kamar kalau hal itu benar-benar terjadi.

"Saya tidak kedinginan kok."
Terimakasih kamu begitu memperhatikan saya, Ly.

"Cez..."

Baiklah! Kini kamu mengeluarkan jurus andalanmu. Tatapan bak anak anjing ditengah hujan itu membuat saya menyerah.


***

Wedangan Kampus, Dua hari kemudian

"Bini lo bentar lagi ultah ya, boy?"

"Tujuh hari lagi."

"Uda cari kado?"

"Sudah"

"Bini gue kemarin ultah malah belom gue kasih apa-apa."

Saya kaget dan merasa bodoh dalam waktu yang bersamaan. "Ly? Kapan?"

"Kemarin, boy. Ditanya mau minta apa, eh dari jaman dinosaurus dia cuma bilang lampu. Mana gue tau yang begituan?!"

Hahahahahaha...

Saya telah menyakiti kamu, Ly. Lagi. Dan kamu hanya diam dalam wajah ceria itu.






Tuesday, October 12, 2010

21 Tahun Lamanya


Terimakasih Tuhan Yesus untuk 21 tahun penyertaanMu yg luar biasa :) 21 tahun lamanya Kau memberiku kasih yang tiada berubah. Tuntun aku untuk layak menjadi wanita kepunyaanMu, menyenangkan hatiMu, mencintaiMu lebih dari siapapun di dalam hidupku.

Aku bersyukur untuk setiap nafas dalam tubuh fana ini
Aku bersyukur untuk kedua orang tua dan keluarga yg Kau kirimkan
Aku bersyukur untuk sahabat yang selalu menopang
Aku bersyukur untuk talenta
Aku bersyukur untuk cinta
Aku bersyukur untuk malam
Aku bersyukur untuk tiramisu
Aku bersyukur untuk 12/10/2010
Aku bersyukur akan Engkau



Solo, 12 Oktober 2010

Tuesday, October 5, 2010

Kubik

Wajahnya biasa saja, penampilan standar, postur tubuh juga tidak sempurna. Tapi selalu ada kekhawatiran kecil akan wanita itu. Namanya Lynora.

“Dia memang sangat keterlaluan pada Ly. Biarpun dia sahabat saya, tidak seharusnya dia seperti itu pada wanita,” oceh ia.

Ly. Dalam iba yang ia lafalkan, aku bahkan bisa mendapati sebersit kekaguman di sana. Ia selalu menyelipkan Ly dalam setiap perjumpaan kami. Aku tahu rasa cinta ia utuh milikku. Tapi Ly membuatnya timpang.

“Saya heran sama Ly, masih saja mau diperlakukan seperti itu. Sekarang rasakan sendiri akibatnya.” Ia tidak marah, ada sesuatu tak terdefinisikan dalam intonasi ia yang nyaris datar.

Logika di otakku terus berteriak untuk melontarkan satu pertanyaan. “Kamu cinta sama Ly?” Akhirnya keberanian itu muncul dalam suatu sore yang kami lalui bersama.

Ia tersenyum seolah ingin berkata kamu lucu sekali!

Ia kecup keningku. “Sekarang kamu tahu siapa yang saya cintai.”

Kami menikmati hening.


***

Wanita itu seperti duri yang membuat langkah aku dan ia terus terseok. Ly, si nona tak terlihat yang entah sejak kapan membuat hubungan kami tidak sempurna. Ly seolah ingin merebut ia. Dan Ly memposisikan dirinya sebagai seorang yang lebih mengerti ia daripada aku. Ly selalu membuatku muak.

Ia bilang Ly itu wanita nekat dengan kadar rasio 0%. Ly pemberani.

Ia bilang Ly saklek pada agamanya. Ly wanita yang takut akan Tuhan.

Ia bilang Ly sangat annoying dengan ide-ide tidak masuk akal. Ly seorang yang berpikir out of the box.

Ia bilang Ly begitu childish ketika merajuk. Ly kuat, meski ia tampak lemah.

Ia bilang Ly nyentrik, wanita nyleneh. Ly memegang karakternya.

“Ly adalah sahabat saya yang bodoh” Ly adalah seorang yang sangat berarti bagimu.

Ly. Dan Ly. Lalu Ly. Selalu Ly.


***

Siang itu aku dan Ly bertemu. Seharusnya aku mendatangi Ly dan berteriak “TOLONG PERGI DARI KAMI!” Namun tatapan Ly mengunciku. Ia memohon. Bukan, ia memohon bukan untuk dirinya.

Sebenarnya siapa kamu, Ly? Mengapa begitu sulit untuk membencimu?


***

Aku seperti ABG labil ketika diam-diam menelanjangi inbox ia. Hari ini ia genap 21 tahun. Kubawakan ia kue ulang tahun dengan 21 lilin menyala. Kuberikan ia kado yang ia impikan sejak lama. Aku bahkan menyiapkan surprise party dengan teman-temannya.

Sedetik kemudian semua itu terasa bukan apa-apa saat mendapati kalimat Ly yang berbunyi, “Terimakasih kamu telah hadir di dunia ini. Aku bersyukur akan hal itu. Selamat ulang tahun, Cez.” Nama Ly terpampang dengan detail 00.01
Ketulusan itu lebih dari yang dapat aku berikan. Rasa sayang, dan mungkin cinta.

Aku menemukan “kubik”. Sebuah folder khusus yang ia ciptakan untuk menyimpan Ly-nya. Aku menemukan jawaban.

10/04/2010
“Aku tahu keadaan kita sulit, dan ternyata kau lebih memilih menyerah dengan cara yang seperti ini. Kau mengecewakanku.”

11/04/2010

“Cez, tolong lepaskan aku. Jangan begini, kau justru akan menyakiti banyak orang.”

12/04/2010

“You was choosing! I just take a decission. Cez, bukankah kau telah memilih?”

13/04/2010

“Kau bilang ia adalah pelarianmu dariku?!?! Kau jahat, Cez! Pada kami!”

14/04/2010

“Aku membencimu, Cez. Sangat. Kau menyakitiku melebihi siapapun. Tapi aku ingin belajar mengampunimu.”

15/04/2010

“Cintai dia. Dengan begitu aku akan tahu kau juga mencintaiku dengan cara yang berbeda.”


Mereka menyimpan perasaan itu. Rapat. Dalam sebuah kubik yang tertutup bagi orang luar seperti aku.


***