Showing posts with label #JuliNgeblog. Show all posts
Showing posts with label #JuliNgeblog. Show all posts
Monday, July 22, 2013
Saturday, July 20, 2013
#JuliNgeblog #Day20: Frappucino Darling
Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir persahabatan
***
“Hemmm.” Hemmm-nya terdengar in denial.
Sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya.
Mungkin kali ini dia sudah malas
berdiplomatis, atau mungkin dia tidak benar-benar mencintai kopi.
***
Halte busway pada malam Sabtu tak
pernah se-crowded ini. Aku sampai kewalahan untuk mengambil hp di dalam tas yang sedari tadi nyolot
minta diangkat.
Adriana Soebagio calling…
“Yes, cyin?” sapaku sambil
sedikit ngos-ngosan. Beginilah nasib
wanita urban yang harus struggle di
atas hak sepatu 7 cm nya.
“Lo dimana, beb? I need your favor.”
“Harmoni. Nunggu busway. Gimana?”
“Ntar gue ke rumah. Temenin gue
arisan di Union, okay?”
“Ha? Gue mana cocok masuk inner circle lo itu?! Ajakin si…”
“Lo siap jam 8. Dandan cantik. Muah!”
KLIK. Telepon ditutup.
***
Kadang pusing sendiri melihat polah
Adriana. Tiap bulan harus dikejar target ratusan juta rupiah lah, ngemis dari nasabah A sampai nasabah Z,
belum lagi arisan dengan socialite ibukota.
Tapi aku tahu betul sahabatku. Dibalik Herve
Leger itu masih ada Adriana ber-sneakers dan jeans belel yang dulu kukenal. Hanya saja kini ia sedang menunjukkan sisi
yang satunya.
“Aaakkkkk gue butuh kopi!!! Kita
ngopi bentar ya, beb?”
Baru mencicipi main course seiprit, Adriana sudah kode ngajakin balik. Jadilah kami pulang dari Union dengan perut keroncongan dan
terdampar di salah satu coffee shop di daerah Selatan.
“Gue sebenernya agak nggak nyaman
sama geng arisan tadi. Tapi ya gimana lagi, tuntutan profesi,” ucapnya sambil
sesekali menyendokkan ice cream dari
atas kopi ke dalam mulut. Lumrahnya arisan heboh merupakan a little escape bagi wanita karier super sibuk seperti Adriana. Ini
justru sebaliknya. Ia jauh dari sosok the
arisan darling.
“Lo nggak pesen makan?” tanyaku
dengan mulut penuh.
“Nope. Kenyang. Gue cukup kopi aja.” Saat di Union tadi Adriana
terlalu sibuk berhaha-hihi sampai makanannya tak tersentuh. Sekarang pun dia hanya pesan… frappucino? Oh come on, young lady!
"Hhhhhh..." Adrianna menghela nafas. Dramatis. “Gue capek sama kerjaan. Bla bla bla…”
Here we go! Adriana seorang story
teller yang handal. Kalau dia sudah curhat perkara kerjaan, yang denger
bisa ikutan capek luar dalam.
“Yauda resign. Buat apa kerja tapi nggak happy? Cuma karena prestige? Lo itu lebih cocok jadi copy writer daripada banker. Have a faith on your passion, my dear!”
Ia langsung diam. Sepertinya
ucapanku barusan merupakan sebuah tamparan keras. Ah seharusnya sudah kulakukan dari
dulu.
“Gue happy kok jadi banker."
"You are pretending to be happy."
"Nggak semua orang bisa masuk treasury, beb. Gue hari ini cuma… ummm… capek aja.”
"You are pretending to be happy."
"Nggak semua orang bisa masuk treasury, beb. Gue hari ini cuma… ummm… capek aja.”
“Iya nggak semua orang bisa masuk
treasury, karena nggak semua orang
punya nama belakang Soebagio!”
Tamparan kedua.
Adriana mengaduk-aduk kopi di
hadapannya. Kesal. Setelah ice cream di
atas kopinya habis, ia meneguk sesekali kemudian menyingkirkannya ke ujung
meja.
“You
love coffee, don’t you?”
“Hemmm.” Hemmm-nya terdengar in denial.
Sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya.
“Hahaha… You are so frappucino
kind of girl, you claim to love coffee, but you don't. You just like an ice
cream.”
Tamparan ketiga. Sorot mata itu
tampak lelah. Mungkin kali ini ia sudah malas berdiplomatis. Atau mungkin ia memang tidak
benar-benar mencintai kopi.
PICTURE: HERE
Wednesday, July 17, 2013
#JuliNgeblog #Day17: Latte
Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir cinta.
***
Jogja, 2007
Rain Stick? Nama yang cukup
hipster-melo-dramatis untuk sebuah coffee shop. Tidak terlalu besar, namun homey. Letaknya yang bersebelahan dengan
kampus ISI membuat pengunjung dapat menikmati live music secara cuma-cuma. Ku Yakin CInta - D’cinnamon dan
dentuman jimbe terdengar samar dari seberang sana. Membuatku larut pada sesuatu
yang entah apa.
“Cobain punyaku, ndut.” dIa menyodorkan
minumannya sementara aku masih terlihat bingung menjelajahi buku menu.
“Ini apa, mas?”
“Latte.
Feel free to slurp.”
Dan sejak saat itu aku mencintai kopi.
***
People say good coffee
is like friendship… rich, warm, and strong. What if
ours is not friendship anymore? Is it does matter?
***
Bandung, 2013
Enam tahun berlalu sejak kopi pertamaku. Aku
yang waktu itu masih semester satu terlalu lemah melewati cobaan family zone. Dia membuatku jatuh cinta
pada kopi atau mungkin sebaliknya. Kami terjebak kakak-adik-isme dalam jangka
waktu yang cukup lama. Hingga salah satu diantara kami, aku, mengubah status quo
itu menjadi one side love.
Things turned out not
like the way I want it would be. Akhirnya kami mempunyai pasangan masing-masing. Perlahan saling melupakan dan mengakhiri
hubungan yang bahkan tidak pernah dimulai.
Namun hari ini tampaknya semesta berkonspirasi
mengulik kembali unfinished business beberapa
tahun lalu. Kami bertemu.
“Kamu di Bandung nginep dimana, ndut? Nanti
malem ngopi, mau? Kujemput.” “Errrrr
berdua aja ya tapi,” tambahnya buru-buru bahkan sebelum aku mengiyakan.
***
“Kamu masih jalan sama yang dulu?” Dia membuka
percakapan.
“Enggak, udah lama putus,” jawabku datar.
“Terus sekarang sama siapa?”
“Nggak lagi sama siapa-siapa. Jadi hidden agenda ngajakin aku ngopi cuma buat
interogasi perkara love life ku?” Aku
manyun. Merasa dikonfrontasi.
“Hahaha… Ambekan…”
Aku masih manyun.
“Kebaca ya? Yes, I’m checking.” Dia
tersenyum. Namun tidak ada nada bercanda seperti sebelumnya.
Matik!
“Vanilla
latte?” Suara si barista memecah kecanggungan diantara kami.
“Please.”
Setelah meletakkan latte didepannya dan
hot Americano untukku, si barista
segera berlalu. Meninggalkan kami dalam bisu.
Seolah tau aku merasa tidak nyaman, ia pindah
untuk mengambil tempat di sebelahku. Tangannya kemudian menggenggam jari-jariku
yang mulai dingin bukan karena udara Bandung. “Dingin?”
Ah retoris. Namun aku hanya mengangguk-angguk
tolol.
“Kamu masih suka latte, mas?” Dari sekian banyak tanda tanya, justru pertanyaan inrelevan
itu yang keluar.
“Yup!”
Genggamannya semakin erat. Intens. Membuat
banyak hal tampak kabur. “You have
something in common with your coffee,” aku mulai berkicau.
“Am I? Hahaha… Try me!”
“A latte
person. You don’t want to take a risk so that you stay on your comfort zone. Sometimes
a good thing comes from unexpectedness,
but you are too afraid to confront it.”
Setelah itu hening. Kami resmi terjebak
nostalgia.
Tuesday, July 16, 2013
#JuliNgeblog #Day16: Question of The Month
Wednesday, July 10, 2013
#JuliNgeblog #Day10: Urbano Princesa
Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir cinta.
***
“Emang masalah buat dia kalau hampir tiap pagi gue minum kopi empat puluh ribuan?!” nafasnya naik turun.
Kesal.
“Woa woa…
Easy girl… The point is you were late yet had coffee on your hand. Yauda sih
cuekin aja.” Sarah, teman kantor yang juga sahabatnya berusaha cooling down.
“Iya tadi gue telat, tapi negurnya nggak gitu lah. Even Miranda Priestly did better.”
***
Monday always comes
every week. Seninnya tak pernah sesuram ini. Tidak sebelum
boss hasil hijack-an dari ‘perusahaan tetangga’ menjadi anggota baru di
tempatnya bekerja.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya, Pk.
07.20. Masih ada waktu untuk me time.
Stiletto 9 cm tak pernah menyurutkan
niatnya mampir ke kedai kopi berlogo
putri duyung di gedung sebelah. Frekuensinya ngopi di Sbucks sering membuat ia dicap hedon
oleh beberapa teman kantornya. But like
she cares. People judge people.
Ia dan kopi punya history. Nggak
semua orang bisa paham itu.
“Buat dateng meeting lo selalu telat, tapi buat secangkir produk kapitalis―kopi
empat puluh ribuan tiap pagi lo bisa on
time. What an Urbano Princesa!”
Urbano Princesa, huh? Teguran sarkatis itu masih ia
ingat dengan jelas. Seakan baru kemarin sore. Bagaimanapun seorang pemimpin itu
harusnya ngayomi, respect sama bawahan. Bukan malah…
Sosok tiga orang lelaki di meja paling ujung kontan
membuyarkan lamunannya. Bukan, bukan karena mereka kumpulan eksmud kece dalam
balutan Rolex atau Tag Heuer dengan kemeja lengan panjang
digulung. But because one of them―that
cool bastard has hurt her ego.
“What on
earth...” Dari kejauhan ia memekik halus ke arah si boss.
Nyaris berlari ia menuju ke arah sang barista.
Tak mengacuhkan tatapan risih beberapa pengunjung atas suara teplak teplok dari heels yang ia kenakan. Setelah memesan iced café mocha tanpa lupa meminta size nya di-upgrade, ia mengambil
meja di ujung berlawanan. Ingin
menikmati kopi tanpa distraksi.
“You hate
the taste of coffee but you need the pick-me-up, so you improvise.”
Oh please, not this
morning. “Pardon?” Ia mendongkak ke arah datangnya
suara. Ah bagaimana ia tidak hafal suara menyebalkan yang sudah hampir dua
bulan ini selalu mencecar project nya?!
Lelaki itu tersenyum, namun tampak seperti
seringai. Dualitas yang sempurna antara tampan dan menyebalkan. “Those mocha a type of person. What your
coffee says about you.” Dagunya menunjuk ke arah kopi di meja yang sudah
setengah kosong. “Read somewhere.” Si
lelaki menambahkan.
Damn! Ia merasa ditelanjangi melalui
kopi paginya. What could be more ironic
than this circumstance?
Haha. Gotcha! Dalam hati lelaki itu merasa di
atas angin. Sedikit menikmati ekspresi wanita yang menurutnya sangat impulsive namun kini hanya bisa
bergeming.
“See you
at office, Urbano Princesa.” Ia sudah hendak pergi, namun si lawan bicara tiba-tiba menyahut.
“Ruby. Just
in case lo lupa, nama gue Ruby, boss.”
Ruby sengaja memberi penekanan ketika memanggil lelaki di hadapannya dengan
sebutan ‘boss’.
Hanya butuh sentilan kecil, kilatan di mata
Ruby langsung kembali. Meledak-ledak dan agresif. Deep down inside, Raka menikmati hal itu. Ia pun terkekeh.
PICTURE: HERE
Subscribe to:
Posts (Atom)




