Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Wednesday, July 31, 2013

July Photo Diary





1. Being a bridesmaid with BFF ― at The Green Fores Resort, Lembang
2. Bandung little chit-chat ― at Cihampelas Walk, Bandung
3. KOCOK! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialite
4. Can you spot my lucky charm?
5. Playing farm frenzy ― at Cimory The Valley
6. I'm into stripes! ― at Lind's Ice Cream
7. Chicken Parmegiana. Om nom nom! ― at Warung Orange, Solo
8. Accompanied by Hot Caramel Latte ― at Blue Loctus Coffee House, Semarang
9. Farewell. Hiks ― at Kalimilk, Solo



PICTURE: BY AUTHOR

Monday, May 7, 2012

Gembira Loka Zoo #3

B   : Kodok api gama bunta
Me: Eh? Jadi ini kodok yg menginspirasi email address alay mu dulu?
B   : Hehe
Me: Astaga!!!




 




B   : Kamu lagi foto apa, Nin? Kapal karam? Kayak hatimu dong, karam. Hahaha!
Me: Hatiku nggak karam, No. Hanya mencari pelabuhan terakhir. Sama kayak kapal ini. Did you see?
B   : Eeeerrrrr...
Me: Hahaha!





Location: Gembira Loka, Yogyakarta
Taken by: Canon

Gembira Loka Zoo #2

Me: Wah ada Dino!
B   : Apa lagi kali ini?
Me: Buaya! Hehe *nyengir*
B   : Hemmmmm
Me: Buayanya kesepian. Kasian. Remind me of you
B   : Hahaha
Me: Ironis ya, nasib si buaya ini
B   : Kenapa?
Me: Jadi lambang playboy padahal...
B   : Padahal selama fase hidupnya dia hanya memiliki satu pasangan?
Me: Yep! Monogami. Makhluk yang setia.



B   : Ninda jangan berisik!
Me: Itu bukan aku yang berisik tauk!
B   : Kamu kan kayak wau-wau, sayang. Berisik. Pecicilan.
Me: Dih!

Wau-wau




Location: Gembira Loka, Yogyakarta
Taken by: Canon

Saturday, May 5, 2012

Gembira Loka Zoo #1

Jogja, 2 Mei 2012

Me: Gembira Loka! Yayyy!!!
B   : Ke kebun binatangnya ntar-an aja sih
Me: Nggak! SE-KA-RANG!
B   : Ini jam 11 siang, sayang...
Me: Lhoh emang kenapa, sayang?
B   : Animal nya break makan siang
Me: Oh gitu ya?

Map


Tapir







Location: Gembira Loka, Yogyakarta

Friday, April 20, 2012

Simple Joy


3 Gratitude for today:

  1. Having dinner with my lovely sista, Mba Oki. What a fine day!
  2. Take a random picture on Easter photo booth 
  3. I can pass the obstacles and be ready to explore my new world. Say hello to spotlight! Hahaha

Picture taken by: Blackberry Bold 9700
Location: Solo Paragon Mall

Monday, September 12, 2011

Girl's Night

Wooo-hooo I spent last Saturday night by visit Ngarsopuro Night Market with my little devils Nita, Anggun, and Eny. Yes, it's Saturday night indeed! Satnite's issue so yesterday yesss? LOL true! Seriously that such gorgeous moment to take some pictures. We dressed up a little more preppy than we usually do. Exciting :)








Me, Nita, Anggun and Eny

Solo, September 10th 
Photo by: Eny
Photo editor: Me

Sunday, July 24, 2011

10 Reasons Why I Love Coffee



  1. I got my precious moments with coffee
  2. A cup of coffee is very helpful pouring my private restlessness into word
  3. Kopi merupakan katalisator saya untuk bisa pupee :p
  4. Dari kopi turun ke hati. Sounds ridiculous, eh?
  5. Their tastes give me a little musings about love, friendship, life, family, God
  6. I capture many things―people, moments, feelings―on every coffee that I drink
  7. Seorang teman pernah berkata pada saya, "Kalau kisah cintamu dibikin versi layar lebar mungkin judulnya: Lighter I'm in Love"
  8. It smells heavenly!
  9. I felt unexpected when I drink it. That was one-of-a-kind my guilty pleasure: coffee's moment!
  10. He does :)

Sunday, March 2, 2008

JANGAN SALAHKAN MEDAN

Desember lalu beberapa teman mengajakku pergi ke Pantai Maron. Lima belas tahun tinggal di Semarang, mendengar nama pantai inipun baru kemarin sore. Ironisnya, bukan hanya aku yang merasa asing ketika Mba Ruth (Ketua KOREM kami) menyebut Pantai Maron sebagai objek tujuan. Hal ini membuatku berpikir, lantas siapa yang patut dipersalahkan? Kami yang ngaku anak Semarang asli tapi nol besar akan potensi alam setempat? Pemda Semarang yang kurang promosi dan begitu saja mengabaikan profit yang mungkin dihasilkan? Lokasinya yang terpencil?

Bukan suatu yang hiperbol bila letak Pantai Maron dibilang jauh dari peradaban. Untuk seember kecil air bersih kami harus membayar seharga 1 liter air mineral! Bayangkan saja. Sangat kontras dengan Pantai Marina yang kaya akan pengunjung (tapi mulai berkurang akibat minimnya perawatan) karena letaknya yang berada di kawasan real estate. Dari bandara Achmad Yani—ujung dari ujungnya Semarang—kami masih harus menempuh sebuah perjalanan panjang.

Kalau dihitung secara matematis seharusnya sampai dalam waktu 45 menit. Sayang terkadang hukum matematik tidak berlaku. Butuh lebih dari 1 jam untuk mencapainya. Integritas ruang dan waktu yang tak kooperatif memang.

Kami harus melewati lautan lumpur, medan terbesar dalam perjalanan. Jangankan motor, kakiku saja sangat berat untuk dilangkahkan. For your info, aku terpaksa berjalan kaki, karena keukeuh nangkring di atas motor merupakan tindakan yang sangat egois (-.-“)

Satu persatu dari kami berjatuhan. Diawali oleh Ayu, Ester, lalu Aryo (haha.. bahkan seorang Aryo Nyamuk pun dapat jatuh!)

Adegan ini membuatku mencelos. Mungkin beginilah dinamika kehidupan. Kita tak pernah tahu bagaimana perjalanan kita ke depan. Berapa banyak yang datang, berapa banyak yang pergi, berapa banyak yang tinggal. Dan yang tak kalah penting, seberapa berat medan yang kita tempuh, yang membuat perjalanan hidup menjadi lebih panjang.

Aku sempat bilang, lebih baik cowok yang di depan—just in case saja. Sayang nasehat kecil ini hanya dianggap angin lalu. Baru ketika jatuh, mereka mengerti, kalau mereka tidak selamanya bisa bertahan seorang diri.

Kadang kita menghindari sebuah perjalanan karena medannya. Itu sebabnya kita tak pernah tahu apa yang ada di depan sana. Padahal medan lah yang membuat kita belajar banyak hal. Siapapun, tanpa terkecuali, dapat jatuh ketika menempuh sebuah medan kehidupan. Tinggal bagaimana kita bertahan. Akankah kita mengulurkan dan menerima uluran tangan dari orang lain disaat kita merasa benar-benar tak mampu?

Ada seorang pasangan yang berangkat beriringan dengan kami. Ternyata mereka juga ikut terjatuh. Kami menolong, mereka bangun, mengucapkan terimakasih, dan pergi. Kembali mencari jalan yang dirasanya paling baik.

Medan berlumpur itu membuat beberapa orang baru datang ke hidup kita. Namun mereka tidak selamanya tinggal, sekalipun kita menginginkan mereka untuk tinggal.

Hidup ini pendek—orang Jawa bilang mampir ngombe (numpang minum). Menjadi panjang ketika kita harus melewati berbagai rintangan yang ada. Bukan hanya lempeng, tapi juga berliku, berbatu, bahkan berlumpur.

Ada kepuasan tersendiri saat akhirnya sampai ke Pantai Maron. Rasanya seperti menemukan sisi lain kehidupan yang selama ini ada, namun tertutup oleh medan yang tak pernah dilalui, atau barangkali yang tak ingin dilalui karena kita lebih memilih berputar untuk menghindar? Bukan karena medan. Tapi tentang medan.


Tuesday, January 8, 2008

*Special thx buat Kebo (Ricky. Hehee… Ampun, Ky!) untuk tebengan yang telah diberikan pada cewek manis ini =p