Friday, June 12, 2009

SAAT SEMUA TAK LAGI SAMA

Angin itu berbalik arah
Dari utara menjadi selatan
Aku merasakan beda

Kamu menamai derajat itu deviasi
Aku menyebutnya elevasi
Aku merasakan beda

Aku dan kamu termutasi
Dari pualam yang sempurna menjadi serpihan tanpa warna
Aku merasakan beda

Cinta tak lagi tak terhingga
Namun terfinit dalam kata
Aku merasakan beda

Rasa kita terdistorsi

Saat semua tak lagi sama,
mungkin ini yang mereka sebut kadaluwarsa





Thursday, May 14, 2009

Wednesday, May 13, 2009

SELAMAT JALAN, BAMBI



Hari dan tanggal kelahiran Bambi entah kapan. Namun ia baru bertengger di kamarku sejak dua bulan yang lalu. Ia yang paling gemuk dan subur diantara teman-temannya.

Bambi, horta pertamaku dalam jelmaan babi pink lucu. Butuh kesabaran 1 minggu untuk munculnya rumput hijau lebat di punggung Bambi. Tubuhnya yang coklat muda harus berubah menjadi sedikit lebih tua ketika tetesan air itu meresap—syaratnya bertumbuh. Mungkin bagi kebanyakan orang Bambi tak lebih dari sebuah boneka horta (medium untuk menanam biji rumput dalam bentuk boneka-red). Namun ia sudah seperti teman yang setiap pagi selalu ku siram dan kumandikan sinar matahari. Ia mengisi kekosongan yang kadang tak bisa diisi oleh teman manusiaku. Aku berterimakasih untuk itu.

Hingga tiba waktunya aku harus meninggalkan Bambi seorang diri. Empat hari aku pulang ke Semarang. Bambi kutitipkan pada salah seorang mba kos ku.
“Mba, titip Bambi ya. Jangan lupa disiram tiap pagi terus dikenain matahari ya, mba. Aernya jangan terlalu banyak tapi juga jangan terlalu dikit,” pesanku saat itu.
Tapi entah karena mba kosku tidak memberikan takaran air yang tepat, atau selama empat hari matahari enggan berbagi sinarnya, ataukah takaran kasih sayang yang kami berdua berikan berbeda, Bambi pun layu. Rumput di punggungnya menguning dan terkulai. Satu minggu aku berusaha memperjuangkan Bambi ditengah masa kritisnya. Tapi keadaan yang aku jumpai justru jauh lebih menyedihkan, melihat Bambi pada suatu batas antara hidup dan mati.

Mungkin mba kosku benar, bahwa setiap horta itu memang ada masa hidupnya. Sekitar satu sampai dua bulan, dan setelah itu ia akan mati. Awalnya aku berusaha ingkar akan hal itu, tapi toh kini aku harus belajar menerimanya.
Aku merelakan Bambi.

Kuletakkan Bambi di sudut meja komputerku, tanpa siraman air dan matahari. Namun entah bagaimana menjelaskannya, aku lebih bahagia melihatnya seperti itu. Sudah saatnya.

Bertepatan saat postingan ini dibuat, lagu dari Vitamin C – Graduation (Friends Forever) sedang mengalun dari play list ku. Membawaku pada dua tahun silam, saat dimana tiga orang sahabat sedang berkumpul dengan Time Capsule berisi impian 7 tahun mendatang di tangan mereka.

Siang ini aku membaca postingan di wall facebookku dari sahabatku Collin. Dia menuliskan kurang lebih seperti ini :
Pen, mungkin kalo ntar gue balik, gue ga akan balik ke Semarang lagi.

Sampai detik ini aku belum tahu maksud postingan itu. Keluarganya akan pindahkah? Dia akan pergi jauhkah?

Aku teringat Bambi.
Saat aku mendapatkannya.
Saat aku melihatnya tumbuh.
Saat aku merelakannya pergi.

Masa hidup Bambi merupakan sebuah siklus. Ada tahapan ketika ia tumbuh, perubahan warna salah satunya. Sama seperti persahabatan yang memiliki tahapannya dalam warna. Tak selalu muda, kadang juga berwarna tua.
Aku tahu akan tiba saat dimana Bambi kering dan mati. Sama tahunya bahwa akan tiba saatnya dimana sahabat-sahabat itu tidak akan selalu tinggal. Ia mengisi kekosongan yang ada untuk kemudian meninggalkan kekosongan yang berbeda. Dan kelak akan hadir seseorang untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkannya.

Segala hal di dunia ini tidak ada yang abadi, seperti perjumpaan.
Sama halnya dengan perjumpaan, begitu pula dengan perpisahan.
Lagi-lagi sebuah siklus.

Terimakasih untuk Bambi kecilku yang darinya aku telah belajar merelakan sebuah kepergian dengan garis lengkung di wajahku. Memahami lebih dalam dari arti meninggalkan dan ditinggalkan tanpa embel-embel atribut bernama rasa sakit. Bambi boleh kering, boleh mati, namun aku tahu dia abadi. Begitu pula dengan mereka, meski jauh, meski terpisah, meski tak dapat tinggal, mereka akan tetap ada di sana.

Aku sayang kalian.
Buat Bambi, terimakasih untuk selalu mengisi ruang kosong di sudut meja komputerku.
Buat Collin dan Najin, semoga 5 tahun dari sekarang kita bisa membuka Time Capsule itu bersama-sama.

“As we go on we remember all the times we had together. And as our lives change, come whatever we will still be friends forever…”

Thursday, May 07, 2009

Tuesday, March 17, 2009

SEASON 2

“Nindut, kamu kenapa? Mau crita? Ntar malem kita ketemuan ya.”
Pertanyaan pertama. Dari seorang kakak yang biasa ku panggil Mbak Vania.

“Wah, udah jadi tante janda donk kamu, Nin?”
Aku tertawa membaca sms yang mempertanyakan statusku saat itu. Antara bingung harus menjawab apa, sekaligus merasa lucu dalam waktu yang bersamaan. Pertanyaan kedua. Kali ini datang dari Mbak Dezmon.
“Ha. Haha. Hahaha. Hahahaha…”
“Lagi patah hati kok malah ketawa,” simpulnya.

“Cik, piye ama bimbo?” lagi.

“Boleh tahu? Kamu ada apa tho ama Om? Kalian baik-baik aja, kan?” dan lagi.

“Lhoh, Dor. Bukannya kemarin kamu uda putus?” Entah kali ini pertanyaan yang keberapa.

Tiga hari yang lalu aku tidak tahu harus menjawab apa. Dua hari yang lalu aku masih tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Tapi kemarin malam aku tahu dengan pasti apa yang aku rasakan. Oh My Gosh, aku betul-betul bisa merasa empati dengan Dewi Persik ketika kehidupan cintanya dipertanyakan oleh media dan khalayak! Namun bedanya aku belum sempat kawin siri.
Hahahaha…

“Bsk Lighter atau GH? Temu kangen sekalian gossip.”
Well, apakah ini semacam konferensi pers?

Malam ini akhirnya aku datang ke GH memenuhi undangan. Bersama dia, dan itu lebih dari sekedar jawaban. Kami bungkam, mempersilahkan Mbak Dezmon, Bang Ndut, dan Yeye merangkai jalan ceritanya masing-masing dengan ending yang sudah tersedia.

“Jadi sudah koma, tho. Gak titik lagi...” Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
Aku nyengir lebar ke arah Bang Ndut.

Tidak ada koma, yang ada hanyalah awal baru. Paragraf baru.

Sekarang aku hanya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada kalian yang telah membuat kami merasa menjadi artis selama beberapa hari belakangan dengan perhatian serta dukungan yang datang. Buat Nanda, Mbak Dezmon, Mbak Vania, Bang Ndut, Yeye, kk Ndeph, Ujang, Keshia, Rani, Diaz, Nadya, Sigit, Yoga, Dilla, dan pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu dalam postingan ini. Sungguh, kami tidak bermaksud membuat sensasi kalau itu yang sedang kalian pikir saat ini.

Untuk teman-teman yang sempat bertanya, yang hanya asas praduga tak bersalah, yang mengira-ira, yang penasaran, yang memberikan dukungan baik agar kami tetap berpisah maupun rujuk kembali, yang dengan rela menghibur dan mendoakan yang terbaik buat kami, yang sudah mendapat jawaban, dan yang belum mendapat jawaban, kisah kami memang sudah berakhir saat itu. Titik, bukan koma. Namun kini, ijinkan lah kami untuk membuka babak baru. Season 2.

Segala keputusan yang pernah ada merupakan sebuah media pembelajaran tersendiri bagi kami. Entah untuk saling menemukan atau melepaskan. Namun kami memilih untuk berdiri pada pilihan yang pertama. Kami ingin belajar kembali. Membaca hati, menghitung kasih, menghafal janji, dan merumuskan kata maaf. Kami sempat buta akan beberapa hal, tapi kini saatnya untuk kami belajar mengeja rasa demi rasa hingga akhirnya membentuk sebuah frasa yangsempurna.

Thursday, March 12, 2009

TITIK BUKAN KOMA

"Seseorang seharusnya bersama karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutan akan sepi" (Rectoverso - Dee), sebuah kalimat yang pagi ini telak menohokku. Aku tahu kali ini adalah final. Kami berdua merasa kelelahan yang sama. Mungkin selama ini aku terlalu egois dengan memaksakan diri. Mencoba mengerti padahal sama sekali tak mengerti dan terus menuntut untuk dimengerti.

Perbedaan itu indah, ada yang berkata demikian dulu sekali. Berbeda untuk saling mengisi. Namun kini aku tahu akan satu hal, ternyata ada perbedaan yang tak bisa dipersatukan. Layaknya aku dan dia. Kami tidak bisa saling mengisi dalam wadah yang berbeda. Mungkin rasa sayang kami akan jauh lebih indah untuk diwujudkan bukan dalam status "pacar". Cintaku dan cintanya terlalu egois dalam ikatan itu.

Aku lelah membuatnya jenuh.
Aku lelah membuatnya marah.
Aku lelah melihat ekspresi malam itu.

Aku ingin menjadi seorang yang berbeda dengan si 5 tahun itu, si 1 tahun itu, dan gadis-gadisnya terdahulu. Aku berpikir bahwa aku bisa. Dan sekarang harus kuakui kalau aku gagal.

"Aku uda menawarkan untuk kita sama-sama lagi tadi, Nin, tapi kamu bilang ga bisa. Dan aku ga bisa untuk menunggu yang ga pasti," katanya.
Aku terhenyak. Ternyata di matanya aku adalah sesuatu yang 'ga pasti' itu. Bukan salahnya, tapi salahku. Mungkin salahku karena merasa harus kecewa mendengar pernyataan itu. Pada awalnya aku berpikir bahwa rasa cinta itu berbeda, sehingga ada pengecualian dalam hal menunggu. Tapi ternyata aku sama saja dengan yang lain, setidaknya itulah kesimpulanku.

Sakit ketika keputusan berpisah itu akhirnya mencapai garis akhir. Saat kami harus berjalan dalam setapak yang berlawanan tanpa bisa menjaga satu sama lain. Saat cinta dan sayang masih sama-sama ada namun tak kuasa untuk menyatukannya.
"Aku juga masih sayang sama kamu. Tapi kalau rasa sayang itu hanya membuat aku dan kamu sama-sama sakit, mungkin harus berakhir seperti ini," lontarku tanpa dia tahu bahwa jauh di sana aku menangis.

Kami berpisah bukan dengan sisa cinta yang ada, namun dengan segenap cinta yang kami tahu masih benar-benar ada. Dalam keadaan dimana aku belum bisa untuk sekarang, dan dia tidak bisa menunggu nanti. Kami kehilangan.

Sekali lagi, ini bukan kesalahannya, melainkan kesalahanku ketika aku kecewa akan perbedaan persepsi kami dari arti kata 'menunggu'.

Seandainya kamu membaca postingan ini, aku ingin kamu tahu bahwa nggak selamanya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan seketika itu juga. Aku tahu kamu adalah seorang tuan muda yang terbiasa untuk itu. Tapi terkadang kita perlu menunggu sebagai bentuk pengorbanan untuk hal besar yang ingin kita genggam kelak. Atau kau akan kehilangannya sama sekali, tanpa tahu apapun...

Aku sayang kamu.
Aku cinta kamu.
Aku berterima kasih untuk kehadiranmu selama 5 bulan 10 hari ini.
Tapi saat ini tanganku sudah tak sanggup untuk tetap menggenggam kita.

Kamu tahu, seperti aku tahu, bahwa aku tak menginginkan perpisahan seperti ini. Aku masih berharap akan ada 'koma'. Tapi toh aku harus menghargai keputusanmu yang menginginkan 'titik' ketika kita bersebrangan dalam hal menunggu.

Sungguh, seandainya kamu membaca postinganku, aku ingin kamu tahu bahwa dalam postingan ini aku benar-benar ingin menulis TO BE CONTINUED pada baris terbawahnya. Dan maafkan aku ketika pada akhirnya aku terpaksa untuk menulis...


THE END

Thursday, July 3, 2008

EXTRA ORDINARY IN ORDINARY GIRL


Beberapa dari kita mungkin pernah merasa menjadi Miss Forgotten, Nona Nomor Sekian, atau mungkin Kau (tidak) Tahu Siapa. Seperti kerikil, ada atau tanpa kita mobil akan tetap melaju di jalanan. Di depan cermin kita melihat sebuah pribadi dengan penampilan standar, nggak kaya banget tapi juga nggak miskin, kemampuan akademis rata-rata, bukan tipe kaum urban yang doyan party, intinya sama sekali nggak menonjol. Sambil tertawa lucu kemudian berkata pada diri sendiri, “I’m just an ordinary girl!”
Ada saat dimana kita ingin lepas dari predikat itu. Membosankankah? Tanyalah pada para ‘gadis biasa’ di sekitarmu. Jangan bayangkan mereka sebagai kutu buku berpenampilan over preppy dengan kawat gigi dan kacamata berantai yang menjuntai. Hiperbol yang seperti itu kebanyakan hanya ada di novel-novel remaja dimana sang tokoh nantinya dapat disulap menjadi cantik jelita. Voila!
Bayangkan mereka sebagai gadis yang namanya tidak pernah diingat oleh sang guru semasa SD. Bayangkan mereka sebagai gadis yang mengikuti ekstrakulikuler aman seperti jurnalistik, bukan ekstra show off seperti halnya cheerleaders. Bayangkan mereka sebagai gadis yang tidak pernah merasa betapa menyenangkan berada pada jajaran most wanted di sekolah. Bayangkan mereka sebagai gadis yang teronggok di kamar saat malam minggu tiba, bukan di cafĂ©, club, coffeeshop, mall, atau tempat nongkrong anak gaul pada umumnya. Bayangkan mereka sebagai gadis yang hanya berani melihat pujaan hati dari kejauhan. Bayangkan mereka sebagai gadis yang terpaksa membatalkan Prom karena tidak ada yang memintanya untuk menjadi pasangan. Bayangkan mereka sebagai gadis yang selalu berkata, “Andai aku putih sedikit dan bisa secantik si A, sepintar si B, segaul si C, multitalent seperti si D…”
Bayangkan mereka sebagai gadis yang hanya berani berangan-angan…
Jika mau, kita mampu. Mampu untuk berprestasi, bahkan meraih yang namanya cinta. Apa spesialnya jika seseorang jatuh cinta saat kita kaya, cantik, terkenal? Ketika kita adalah si gadis biasa, kita dicintai tanpa syarat. Sebagaimana adanya. Ada sesuatu yang luar biasa dalam diri gadis biasa ini.
Pernahkah kamu dan aku berpikir, setiap pribadi itu unik bahkan dengan postur tubuh yang jauh dari ideal dan kemampuan minimalisnya? Mungkin kita hanya belum menyadari, bahwa nggak akan pernah ada ordinary girl selama kita tahu diri ini spesial. We all extra ordinary!
Sunday, June 29, 2008

Sunday, March 23, 2008

YESUS DISALIB, LAGI

(Secuil perenungan PASKAH)


Dulu Dia disalib dengan 30 keping perak

Sekarang Dia disalib dengan ribuan eksemplar kamuflase baru

Salah Yudas Iskariot?

Salah penulis-penulis itu?


"Yesus, lelahkah Engkau?"

kita bertanya, tanpa pernah sadar akan satu hal,

bahwa kita telah menjadi Yudas-Yudas baru

yang menyalibkan-Nya dengan rokok

yang menyalibkan-Nya dengan kebohongan

yang menyalibkan-Nya dengan penghujatan

yang menyalibkan-Nya dengan ketiadaan kasih

yang menyalibkan-Nya dengan kemunafikan

yang menyalibkan-Nya dengan pisuhan


"Yesus, lelahkah Engkau?"

dan kita terus bertanya...


Sunday, March 9, 2008

NEVER WALK ALONE


Daftar kegiatan beruntun memenuhi kalenderku beberapa waktu lalu. Segalanya terasa saling berjejalan dalam satu lemari kecil untuk memaksa masuk dan diprioritaskan. Tidak tertata. Pada tanggal yang sama, 23 Februari 2008, ada dua kegiatan besar yang harus kuhadiri. Dan lucunya keduanya bergerak di dunia dan komunitas yang sangat bertolak belakang.


Kegiatan bertajuk *Secangkir Puisi Sebait Kopi, menempatkan aku sebagai salah satu pemain utama di sana. Aku bermain di komunitas teater kampus. Teater SOPO, tempat bermain tapi bukan untuk dipermainkan, ketika ada yang menyeletuk seperti itu, aku hanya tertawa. Namun terkadang hal ini benar adanya. Karena aku merasa menemukan sebuah keluarga baru. Tempat dimana aku bisa menjadi diri sendiri. Berada di dunia akting tanpa perlu berakting, meninggalkan big bag, cardigan dan celana pensil. Rasanya menyenangkan ketika bisa mengenakan kaos gombrong dan celana pendek seadanya, tanpa disertai tatapan memohon khas para fashionista di fakultasku.


Sabtu itu aku melakoni peran sebagai dede kecil yang hidup dalam imajinasinya. Tema SPSK memang dunia fantasi, sempat terlintas di benak liarku, alangkah menyenangkan jika bisa kubawa lakonku ke dunia nyata. Hidup di dunia dimana mimpi bukan sekedar mimpi, lepas dari segala rutinitas, lepas dari segala batas. Tapi tentu saja hal itu tak ubahnya angan tolol :]


Tahap prapentas sangat menyita tenaga dan waktu. Bagaimana tidak, kalau aku harus pulang Pk 24.00 di setiap malamnya. Dengan sungkan mengetuk pintu budhe kos agar bisa masuk ke dalam. Belum lagi mengurus masalah perijinan ke Pembantu Dekan yang dengan tetek bengeknya memintaku untuk ganti proposal. Haha… Thank God!


Pada sisi yang berbeda aku dituntut untuk eksis jika ingin dikenal, jika ingin digunakan lebih tepatnya. Ada sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiwa) bernama Kine Klub yang aku ikuti. UKM tersebut bergerak di dunia perfilman. Mengapresiasi, berdiskusi, dan kadang mencipta sebuah film. Aku jadi mengerti hal-hal kecil dan nilai baru dalam dunia film yang selama ini kerap luput dari mata telanjangku.


Banyak hal yang kupelajari dalam Latsar (latihan dasar) beberapa waktu lalu. Saat dimana aku bisa merasakan susahnya menjadi PD (Program Director), FD (Floor Director), Camera person, Switcher, dan talent dalam satu waktu yang nyaris bersamaan. Ternyata mencipta sebuah karya itu tak mudah.


Februari lalu Kine Klub menyelenggarakan pemutaran film kecil bertema “Gambar Idoep Tempoe Doeloe”. Cukup membuatku pusing juga ketika harus dikejar date line proposal sponsorship, surat perijinan ini, undangan itu…


Kami memutar dua film, Nagabonar dan Pagar Kawat berduri, dimana salah satu dari film tersebut terselenggara bertepatan dengan hari pementasanku. Sebagai panitia, tidak mungkin juga kalau aku tidak datang. Hey, bukankan aku perlu eksis?


Tapi terkadang harus ada yang dikorbankan. Orang bijak bilang, menentukan skala prioritas. Haha.. andai saja ada alat Doraemon yang bisa membagi tubuhku menjadi dua, pasti tak akan sesulit ini. Lagi-lagi imaji liarku muncul.


Dan sampailah aku di sana. Tempat dimana aku lebih dibutuhkan. Aku hanya ingin berlaku adil untuk keduanya. Itu saja. Sangat sulitkah untuk dimengerti?


Setelah semuanya usai, kelegaan yang kunantikan tak kunjung datang. Ada sesuatu yang mengganjal. Seperti kehilangan banyak waktu untuk diri sendiri, dan untuk Nya...


Senin lalu (3/3) aku datang ke sebuah persukutuan rohani di kampus. Renungan dari Bu Efri saat itu telak-telak menohokku, “Mungkin sekarang kita telah memasuki kehidupan kampus yang sebenarnya. Sudah sibuk dengan rutinitas dan kegiatan ini-itu, hingga secara tidak sadar waktu yang dulu kita khususkan buat Tuhan menjadi berkurang. Kita merasa segala sesuatu berjalan tidak sesuai rencana. Merasa sendiri. Padahal Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, kita yang meninggalkan-Nya. Bapa kita di dunia saja selalu menopang disaat kita berteriak minta tolong, terlebih Bapa kita di surga. Dia menyertai kita bukan cuma kemarin, hari ini, lusa, setahun, atau sepuluh tahun mendatang, melainkan sampai akhir zaman…


Never Walk Alone. Sounds familiar? Or commercial? Jika menilik dari sudut pandang para soccer freak, kalimat tersebut pastilah terdengar komersil. Penggila bola mana yang tidak tahu semboyan terkenal Liverpool itu? Beda halnya jika kalimat itu diucapkan oleh orang-orang yang tengah mengalami kesesakan batin. Akan menjadi kalimat yang menguatkan, bukan lagi sekedar semboyan atau bentukan kata.


Saat angin sakal datang di hidup kita dan mengombang-ambingkan perahu yang kita naiki, terkadang kita hanya mampu berkata, “Tuhan, aku mendayung begitu payah.” Sama halnya dengan aku beberapa waktu lalu. Tapi kini aku bersyukur telah mengetahui satu hal, bahwa aku tidak akan pernah berjalan sendiri. Ada Dia yang menuntunku. Disaat perahuku goyang, Ia akan berjalan menghampiriku dan meredakan angin sakal itu.


Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (matius 28:20)



* Secangkir Puisi Sebait Kopi (SPSK) = kegiatan tahunan Teater SOPO berupa pentas perdana yang diselenggarakan oleh anggota baru. Sekaligus sebagai ajang baca puisi bagi semua tamu dan peserta yang hadir dalam acara tersebut. Tentu saja ditemani oleh secangkir kopi…


Sunday, March 09, 2008