Tuesday, December 18, 2007

AKU = KAMU

Beberapa hari lalu ada seorang kakak bertanya seperti ini, “Dek, kalau disuruh milih, kamu lebih milih mana? Persegi, Segitiga, Lingkaran, atau segi tak beraturan?”

Siang itu kami bertiga sedang duduk di sebuah gazebo. Mendung. Tetes pertamapun jatuh, membuatku bisa mencium bau tanah. Aku suka hujan. Namun bukan untuk saat ini.

Topik yang ia angkat memang berat untuk dibicarakan. Meski beberapa orang menyebutnya tak lebih dari picisan. Tapi toh hujan berdiri di sebelahku. Masalah cinta yang biasa menjadi konsumsi publik dalam novel maupun sinetron tidaklah seringan kelihatannya. Hujan turun semakin deras. Sungguh sebuah semiotik yang indah.

“Lingkaran,” jawabku saat itu.
“Wah kalau gitu kamu nggak cocok donk sama Prisma. Habisnya kalian sama-sama milih lingkaran.”
Akupun tergelak. Merasa ditempatkan pada situasi yang hampir sama. Dengan objek yang berbeda tentunya.
“Emang, kalau lingkaran itu artinya apa, mbak?”
“Artinya kalian itu orang yang haus akan kasih sayang. Sama-sama suka diperhatikan. Fleksibel. Tapi karena kalian berdua orang yang suka diperhatikan, kalian nggak mungkin bisa jadian. Kalau sifatnya mirip juga susah. Haha…”
“Haha… jadi dari tadi mau nyomblangin kita toh, mbak?” aku tertawa. Tapi hatiku menjerit. Memohon dengan amat agar Mbak Zabeth berhenti bicara saat itu juga.
Huff… Andai ada sinkronisasi antara hati dan tawaku…


Dia adalah penyambung lidahku. Menyelesaikan setiap kata dalam kalimat yang aku ucapkan. Kami mempunyai banyak kesamaan. Tapi ternyata itu bukanlah sebuah jaminan kalau kami satu. Pada awalnya aku merasa mengenal dia melebihi siapapun. Namun semakin aku kenal, aku justru makin tak mengerti siapa dia sebenarnya. Apa maunya. Apa yang ada dibenaknya. Apa yang dipikirkannya tentangku.

Dinding pemisah itupun muncul secara perlahan. Menempatkan kami pada kedua sisi yang bersebrangan. Aku mencoba menutup mata. Namun gagal. Karena aku terlanjur mengerti, bahwa segala sesuatu yang serupa itu tidak ditakdirkan untuk bersama. Bukannya tidak mungkin, namun sangat jarang terjadi. Semesta menciptakan kita untuk saling melengkapi. Dan bagaimana kami bisa melengkapi kalau apa yang ada padaku, ada pula padanya? Sedangkan apa yang kami butuhkan tidak ada dalam diri masing-masing?

AKU = KAMU
AKU + KAMU = 1 ?


Sunday, December 16, 2007
Post a Comment