Friday, August 2, 2013

Good Morning, August!



Coffee is where the story begin. Have you drink one?


Xoxo
Caffeine Kisser



PICTURE: HERE

Wednesday, July 31, 2013

July Photo Diary





1. Being a bridesmaid with BFF ― at The Green Fores Resort, Lembang
2. Bandung little chit-chat ― at Cihampelas Walk, Bandung
3. KOCOK! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialite
4. Can you spot my lucky charm?
5. Playing farm frenzy ― at Cimory The Valley
6. I'm into stripes! ― at Lind's Ice Cream
7. Chicken Parmegiana. Om nom nom! ― at Warung Orange, Solo
8. Accompanied by Hot Caramel Latte ― at Blue Loctus Coffee House, Semarang
9. Farewell. Hiks ― at Kalimilk, Solo



PICTURE: BY AUTHOR

Saturday, July 20, 2013

#JuliNgeblog #Day20: Frappucino Darling



Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir persahabatan
***

You love coffee, don’t you?”

“Hemmm.” Hemmm-nya terdengar in denial. Sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya.

Mungkin kali ini dia sudah malas berdiplomatis, atau mungkin dia tidak benar-benar mencintai kopi.
***

Halte busway pada malam Sabtu tak pernah se-crowded ini.  Aku sampai kewalahan untuk mengambil hp di dalam tas yang sedari tadi nyolot minta diangkat.

Adriana Soebagio calling…

“Yes, cyin?” sapaku sambil sedikit ngos-ngosan. Beginilah nasib wanita urban yang harus struggle di atas hak sepatu 7 cm nya.

“Lo dimana, beb? I need your favor.”

“Harmoni. Nunggu busway. Gimana?”

“Ntar gue ke rumah. Temenin gue arisan di Union, okay?”

“Ha? Gue mana cocok masuk inner circle lo itu?! Ajakin si…”

“Lo siap jam 8. Dandan cantik. Muah!”

KLIK. Telepon ditutup.
***

Kadang pusing sendiri melihat polah Adriana. Tiap bulan harus dikejar target ratusan juta rupiah lah, ngemis dari nasabah A sampai nasabah Z, belum lagi arisan dengan socialite ibukota. Tapi aku tahu betul sahabatku. Dibalik Herve Leger itu masih ada Adriana ber-sneakers dan jeans belel yang dulu kukenal.  Hanya saja kini ia sedang menunjukkan sisi yang satunya.

“Aaakkkkk gue butuh kopi!!! Kita ngopi bentar ya, beb?”

Baru mencicipi main course seiprit, Adriana sudah kode ngajakin balik. Jadilah kami pulang dari Union dengan perut keroncongan dan terdampar di salah satu coffee shop di daerah Selatan.

“Gue sebenernya agak nggak nyaman sama geng arisan tadi. Tapi ya gimana lagi, tuntutan profesi,” ucapnya sambil sesekali menyendokkan ice cream dari atas kopi ke dalam mulut. Lumrahnya arisan heboh merupakan a little escape bagi wanita karier super sibuk seperti Adriana. Ini justru sebaliknya. Ia jauh dari sosok the arisan darling.

“Lo nggak pesen makan?” tanyaku dengan mulut penuh.

Nope. Kenyang. Gue cukup kopi aja.” Saat di Union tadi Adriana terlalu sibuk berhaha-hihi sampai makanannya tak tersentuh.  Sekarang pun dia hanya pesan… frappucino? Oh come on, young lady!

"Hhhhhh..." Adrianna menghela nafas. Dramatis. “Gue capek sama kerjaan. Bla bla bla…”

Here we go! Adriana seorang story teller yang handal. Kalau dia sudah curhat perkara kerjaan, yang denger bisa ikutan capek luar dalam.

“Yauda resign. Buat apa kerja tapi nggak happy? Cuma karena prestige? Lo itu lebih cocok jadi copy writer daripada banker. Have a faith on your passion, my dear!”

Ia langsung diam. Sepertinya ucapanku barusan merupakan sebuah tamparan keras. Ah seharusnya sudah kulakukan dari dulu.

“Gue happy kok jadi banker."

"You are pretending to be happy."

"Nggak semua orang bisa masuk treasury, beb. Gue hari ini cuma… ummm… capek aja.”

“Iya nggak semua orang bisa masuk treasury, karena nggak semua orang punya nama belakang Soebagio!”

Tamparan kedua.

Adriana mengaduk-aduk kopi di hadapannya. Kesal. Setelah ice cream di atas kopinya habis, ia meneguk sesekali kemudian menyingkirkannya ke ujung meja.

 “You love coffee, don’t you?”

“Hemmm.” Hemmm-nya terdengar in denial. Sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya.

Hahaha You are so frappucino kind of girl, you claim to love coffee, but you don't. You just like an ice cream.”

Tamparan ketiga. Sorot mata itu tampak lelah. Mungkin kali ini ia sudah malas berdiplomatis. Atau mungkin ia memang tidak benar-benar mencintai kopi.




PICTURE: HERE


Wednesday, July 17, 2013

#JuliNgeblog #Day17: Latte


Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir cinta.
***
Jogja, 2007

Rain Stick? Nama yang cukup hipster-melo-dramatis  untuk sebuah coffee shop. Tidak terlalu besar, namun homey. Letaknya yang bersebelahan dengan kampus ISI membuat pengunjung dapat menikmati live music secara cuma-cuma. Ku Yakin CInta - D’cinnamon dan dentuman jimbe terdengar samar dari seberang sana. Membuatku larut pada sesuatu yang entah apa.

“Cobain punyaku, ndut.” dIa menyodorkan minumannya sementara aku masih terlihat bingung menjelajahi buku menu.

“Ini apa, mas?”

Latte. Feel free to slurp.”

Dan sejak saat itu aku mencintai kopi.
***

People say good coffee is like friendship… rich, warm, and strong. What if ours is not friendship anymore? Is it does matter?
***

Bandung, 2013

Enam tahun berlalu sejak kopi pertamaku. Aku yang waktu itu masih semester satu terlalu lemah melewati cobaan family zone. Dia membuatku jatuh cinta pada kopi atau mungkin sebaliknya. Kami terjebak kakak-adik-isme dalam jangka waktu yang cukup lama. Hingga salah satu diantara kami, aku, mengubah status quo itu menjadi one side love.

Things turned out not like the way I want it would be. Akhirnya kami mempunyai pasangan masing-masing. Perlahan saling melupakan dan mengakhiri hubungan yang bahkan tidak pernah dimulai.

Namun hari ini tampaknya semesta berkonspirasi mengulik kembali unfinished business beberapa tahun lalu. Kami bertemu.  

“Kamu di Bandung nginep dimana, ndut? Nanti malem ngopi, mau? Kujemput.”  “Errrrr berdua aja ya tapi,” tambahnya buru-buru bahkan sebelum aku mengiyakan.
***

“Kamu masih jalan sama yang dulu?” Dia membuka percakapan.

“Enggak, udah lama putus,” jawabku datar.

“Terus sekarang sama siapa?”

“Nggak lagi sama siapa-siapa. Jadi hidden agenda ngajakin aku ngopi cuma buat interogasi perkara love life ku?” Aku manyun. Merasa dikonfrontasi.

“Hahaha… Ambekan…”

Aku masih manyun.

“Kebaca ya? Yes, I’m checking.” Dia tersenyum. Namun tidak ada nada bercanda seperti sebelumnya.

Matik!

Vanilla latte?” Suara si barista memecah kecanggungan diantara kami.

Please.” Setelah meletakkan latte didepannya dan hot Americano untukku, si barista segera berlalu. Meninggalkan kami dalam bisu.

Seolah tau aku merasa tidak nyaman, ia pindah untuk mengambil tempat di sebelahku. Tangannya kemudian menggenggam jari-jariku yang mulai dingin bukan karena udara Bandung. “Dingin?”

Ah retoris. Namun aku hanya mengangguk-angguk tolol.

“Kamu masih suka latte, mas?” Dari sekian banyak tanda tanya, justru pertanyaan inrelevan itu yang keluar.

“Yup!”

Genggamannya semakin erat. Intens. Membuat banyak hal tampak kabur. “You have something in common with your coffee,” aku mulai berkicau.

Am I? HahahaTry me!”

A latte person. You don’t want to take a risk so that you stay on your comfort zone. Sometimes a good thing comes from  unexpectedness, but you are too afraid to confront it.

Setelah itu hening. Kami resmi terjebak nostalgia.




 PICTURE: HERE

Wednesday, July 10, 2013

#JuliNgeblog #Day10: Urbano Princesa


Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir cinta.
***

“Emang masalah buat dia kalau hampir tiap pagi gue minum kopi  empat puluh ribuan?!” nafasnya naik turun. Kesal.

Woa woaEasy girlThe point is you were late yet had coffee on your hand. Yauda sih cuekin aja.” Sarah, teman kantor yang juga sahabatnya berusaha cooling down.

“Iya  tadi gue telat, tapi negurnya nggak gitu lah. Even Miranda Priestly did better.”
***

Monday always comes every week.  Seninnya tak pernah sesuram ini. Tidak sebelum boss hasil hijack-an dari ‘perusahaan tetangga’ menjadi anggota baru di tempatnya bekerja.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya, Pk. 07.20. Masih ada waktu untuk me time. Stiletto 9 cm tak pernah menyurutkan niatnya mampir ke kedai kopi berlogo putri duyung di gedung sebelah. Frekuensinya ngopi di Sbucks sering membuat ia dicap hedon oleh beberapa teman kantornya. But like she cares. People judge people. Ia dan kopi punya history. Nggak semua orang bisa paham itu.

“Buat dateng meeting lo selalu telat, tapi buat secangkir produk kapitalis―kopi empat puluh ribuan tiap pagi lo bisa on time. What an Urbano Princesa!”

Urbano Princesa, huh? Teguran sarkatis itu masih ia ingat dengan jelas. Seakan baru kemarin sore. Bagaimanapun seorang pemimpin itu harusnya ngayomi, respect sama bawahan. Bukan malah…

Sosok tiga orang lelaki di meja paling ujung kontan membuyarkan lamunannya. Bukan, bukan karena mereka kumpulan eksmud kece dalam balutan Rolex atau Tag Heuer dengan kemeja lengan panjang digulung. But because one of them―that cool bastard  has hurt her ego.

What on earth...” Dari kejauhan ia memekik halus ke arah si boss.

Nyaris berlari ia menuju ke arah sang barista. Tak mengacuhkan tatapan risih beberapa pengunjung atas suara teplak teplok dari heels yang ia kenakan. Setelah memesan iced café mocha tanpa lupa meminta size nya di-upgrade, ia mengambil meja di ujung berlawanan. Ingin menikmati kopi tanpa distraksi.

You hate the taste of coffee but you need the pick-me-up, so you improvise.”

Oh please, not this morning. “Pardon?” Ia mendongkak ke arah datangnya suara. Ah bagaimana ia tidak hafal suara menyebalkan yang sudah hampir dua bulan ini selalu mencecar project nya?!

Lelaki itu tersenyum, namun tampak seperti seringai. Dualitas yang sempurna antara tampan dan menyebalkan. “Those mocha a type of person. What your coffee says about you.” Dagunya menunjuk ke arah kopi di meja yang sudah setengah kosong. “Read somewhere.” Si lelaki menambahkan.

Damn! Ia merasa ditelanjangi melalui kopi paginya. What could be more ironic than this circumstance?

Haha. Gotcha! Dalam hati lelaki itu merasa di atas angin. Sedikit menikmati ekspresi wanita yang menurutnya sangat impulsive namun kini hanya bisa bergeming.

See you at office, Urbano Princesa.” Ia sudah hendak pergi, namun si lawan bicara tiba-tiba menyahut.

“Ruby. Just in case lo lupa, nama gue Ruby, boss.” Ruby sengaja memberi penekanan ketika memanggil lelaki di hadapannya dengan sebutan ‘boss’.


Hanya butuh sentilan kecil, kilatan di mata Ruby langsung kembali. Meledak-ledak dan agresif. Deep down inside, Raka menikmati hal itu. Ia pun terkekeh.




PICTURE: HERE

Friday, June 28, 2013

Men-ology



Inspired by friend's display picture, I've made a men-ology. First question: Are those smart-nice-handsome-but-not-gay kind of guy do exist? I'm a believer. So that I said YES, one in a million. Noted! I prefer changed "jerk" with "scumbag". Jerk is too polite, don't you think? But scumbag-guy sounds more real, mischievous yet complicated. Hehe. Btw have you ever met one, pal?


Xoxo
Ninda


PICTURE: BY AUTHOR


Follow my blog with Bloglovin

Thursday, June 27, 2013

Coffee Quotes

"COFFEE AND LOVE ARE BEST WHEN THEY ARE HOT" - German Proverb

Friday, June 21, 2013

The New Rule is No Rules


DISCLAIMER: I'm newbie in design yet an expert in express-your-feeling *fingers crossed*


PICTURE: BY AUTHOR

Saturday, June 15, 2013

Greeting from Caffeine Kisser



Why do I love coffee? Because my whole love story just started from a small cup of them. Sounds odd, huh? But I mean it, literally. They bring such a magical spell into my life. Me, coffee, and the story in between. Good morning coffee enthusiast! Better latte than never!


Xoxo
Caffeine Kisser



PICTURE: HERE

Thursday, June 13, 2013

Holycow! Holy Crap!



Pernah dengar Holycow! Steakhouse by Chef Afit? Saat ke Jakarta beberapa waktu lalu, teman saya Atuna merekomendasikan steak yang katanya sangat fenomenal. I wonder what's make this steakhouse extraordinary? Saya lebih bertanya-tanya pada fenomenanya ketimbang rasanya. Kata Atuna marketing di social media mereka sangat gencar. Ah the power of social media again! Soal rasa jangan ditanya: Heavenly! Saat itu saya order well-done untuk wagyu kami, dan sampai potongan terakhirpun masih terasa juicy.

Beberapa hari kemudian tanpa sengaja saya menonton feature kuliner Loobie Lobster yang tak kalah menggebraknya dengan Holycow! dan ternyata datang dari owner yang sama, Chef Afit dan sang istri Lucy Wiryono. Awalnya saya mengira kesuksesan Holycow! semata-mata karena tekhnik pemasaran dan promosi yang ciamik. Namun setelah web browsing, baca beberapa artikel, saya menarik satu kesimpulan bahwa yang membuat Holycow! "pecah" di pasaran adalah ide kreatifnya: "Wagyu for everyone!". Wagyu dan loobster yang identik tersaji di restoran fine dining dikonsep ulang agar bisa dinikmati oleh semua kalangan dengan harga yang lebih realistis. Holycow! yang dimulai dari warung kaki lima, sekarang tampilannya tak kalah dengan restoran cepat saji "si kakek tua". Meski telah berkembang sedemikian rupa, mereka tetap mempertahankan konsep awal, wagyu dengan harga affordable dengan tidak menyulap desain tempat serupa restoran bintang lima. Creativity start from small action, 'aight? Think big, start small. Ternyata big idea yang dieksekusi dari langkah kecil bisa menuai kesuksesan yang luar biasa. Holy crap! 



LOCATION
CAMPSenopati: Jl. Bakti No.15 Senopati, Jakarta
CAMPGading: Jl. Blvd Kelapa Gading WB2 No. 16, Jakarta
CAMPBonjer: Jl. Arteri Kelapa Dua No.18, Jakarta



PICTURE: BY AUTHOR

Tuesday, June 11, 2013

A Gold Star



Who is the strongest people in the world? Mom. Whenever we need a favor, no need to ask, she always gives her best. But sometimes we put her at the second place of everything. We prefer to spend quality time with our pals instead of mom. We don't pay attention whether she is good or not as much as we do to our boyfriend. We let her to be the last person, to be an option not a priority. She is not the Very Important Person we want to share our happiness with. Admit it, we did. We just give her a common star whereas she deserves beyond a gold star. June 11th is my supermom birthday. HAPPY BIRTHDAY, MOMSKI! Life long and prosper. God bless you abundantly. 


Love,
Your daughter 



PICTURE: BY AUTHOR

Monday, June 10, 2013

Book Review: 101 Creative Notes


#1 I'm Born Creative! Notes pertama dari 101 catatan-menjadi-kreatif yang di tulis oleh praktisi sekaligus founder OMG Consulting, Yoris Sebastian. Untuk menjadi kreatif kita harus punya mindset bahwa kita mampu, berbakat, terlahir kreatif. Creativity ain't a gift, it's a skill that we can learn in many ways. Saya lebih setuju menyebut buku ini sebagai workshop yang dikemas dalam bentuk hard copy. Yoris berhasil sharing kreatifitas dan pengalaman dengan bahasa yang sederhana tanpa terkesan show off. Adanya ilustrasi, quotes, dan foto yang disisipkan pada setiap notes menjadikan jenis buku pengembangan diri yang biasanya cenderung membosankan, mengundang untuk segera dilahap. Dan yang saya suka dari Yoris adalah selalu ada feedback untuk para pembaca. Kita bisa saling share beberapa topik melalui hastag ke @yoris. Sama seperti fenomena pasca Creative Junkies, usai membaca 101 Creative Notes saya tertular Yoris-isme. I take an action to learn many other skills. 4 from 5 for 101 Creative Notes. Those "I couldn't agree more!" moments makes this book worth to buy! Believe me, you want this book that much! *squeal*



TITLE: 101 Creative Notes
AUTHOR: Yoris Sebastian
PRICE: Rp. 58K
TAGS: Pengembangan diri, Inspirasional, Kreativitas, Ilustrasi
PENERBIT: Gramedia 



PICTURE: gramediamatraman.wordpress.com

Quotes from Disney

"I always like to look on the OPTIMISTIC side of life, but I am realistic enough to know that life is a complex matter." - Walt Disney

Friday, May 24, 2013

Breakfast at Tiffany's #2





Paul Varjak: "Holly, I'm in love with you."
Holly Golightly: "So what?"
Paul Varjak: "So what? So plenty! I love you. You belong to me."
Holly Golightly: "No. People don't belong to people."
Paul Varjak: "Of course they do."
Holly Golightly: "I'm not going to let anyone put me in a cage."
Paul Varjak: "I don't want to put you in a cage. I want to love you."
Holly Golightly: "It's the same thing."
Paul Varjak: "No it's not. Holly..."
Holly Golightly: "I'm not Holly. I'm not Lula Mae, either. I don't know who I am! I'm like cat here, a couple of no-name slobs. We belong to nobody and nobody belongs to us. We don't even belong to each other."

A flippant lifestyle from Holly Golightly (Audrey Hepburn) has something in common with someone I know. Why do people too afraid to fall in love and having a commitment? Poor Holly. I couldn't sigh more over this film.


PICTURE: www.fact.co.uk / blogs.bable.com / 4.bp.blogspot.com / fanpop.com

Thursday, May 23, 2013

Breakfast at Tiffany's #1



Directed by: Black Edwards
Based on: Breakfast at Tiffany's by Truman Capote
Release date: October 5, 1961
Starring: Audrey Hepburn, George Peppard, Patricia Neal, Buddy Ebsen, Mickey Rooney
Distributed by: Paramount Pictures

I've just watched a 1961 legendary film adapted from novella by Truman Capote, which starring timeless American beauty iconAudrey Hepburn and George Peppard. Yes, call me a girl from other planet. I love this film, the dress (my favorite one is LBD from Givency at the begining of the film), jewelery, society, the actors, the conversation, and the scoringMoon River by Henry Mancini is absolutely a masterpiece, don't you think? Not too surprised if it was nominated for several Academy Award that time. 



Doc Golightly: "I love you Lula Mae."
Holly Golightly: "I know you do, and that's just the trouble. It's the mistake you always made, Doc, trying to love a wild thing. You were always lugging home wild things. Once it was a hawk with a broken wing... and another time it was a full-grown wildcat with a broken leg. Remember?"
Doc Golightly: "Lula Mae there's something..."
Holly Golightly: "You musn't give your heart to a wild thing. The more you do, the stronger they get, until they're strong enough to run into the woods or fly into a tree. And then to a higher tree and then to the sky."



PICTURE: imdb.com

Wednesday, May 22, 2013

Notification

Dear lovely friends, I changed my URL blog to nindyachristiana.blogspot.com few days ago.  Sorry for belated notification. May this thing doesn't bother you to keep in touch with me. So happy having you all on my circle! (:

Xoxo
Ninda

Wednesday, May 8, 2013

Bryan's The American Grill & Wings

















Dear Pork Hunter,

When you come to Semarang don't forget to visit Bryan's The American Grill & Wings. They have very yummy-tasty pork cooked in American style. I had Grilled Pork Chop that day, 200 grams of pork chop dance on the grill, served with sweet BBQ sauce, side salad and fries (you can choose potato wedges, french fries, or mashed potatoes) only for 39,8 K. Aaaaaand the other good news is there are six variants of sauce; Sweet BBQ, Texas BBQ, Honey Garlic, Carribean, Sweet 'n Spicy, Spicy Hot, just pick your favorite one. Yayyy! They also offer Grilled Pork Ribs (79,8 K), Pork Corn (15,8 K), and Rice Combos (44,8 K) for pork lover. I barely forget to mention that you might want to be there at night while it has a cozy American ambience. Next time am going to come back and gladly take more pictures to be shared.


BRYAN'S THE AMERICAN GRILL & WINGS
Jl. D.I. Panjaitan 90 C, Semarang
024 3513483
Tue - Thu: 11 AM - 9.30 PM
Fri - Sat: open late till 10.30 PM

PICTURE: BY AUTHOR

Monday, May 6, 2013

Quote of The Day

"I believe in pink. I believe that laughing is the best calorie burner. I believe that happy girls are the prettiest girls." ― Audrey Hepburn

Friday, May 3, 2013

Tentang Kehilangan

Minggu lalu pakdhe kesayangan saya dipanggil Tuhan. Begitu tiba-tiba, tanpa sakit terlebih dahulu, yang kalau kata orang Jawa "angin duduk". Keluarga besar kami berduka, mengalami kehilangan besar. Pagi ini kakak sepupu saya mengirim pesan singkat, minta dukungan doa untuk budhe yang sampai hari ini masih terus menangis. Saya sedih mendapati hal itu. Lalu saya ingat perkataan adek beberapa hari lalu, katanya waktu putus cinta, saya seperti orang "berduka".

Hidup itu seperti roda yang berputar. When life put us on a top, no matter how much we want time to stop moving, we can't stop the clock. Pada akhirnya kita semua harus merasakan titik terbawah dalam kehidupan, kehilangan. Saya pernah mengalami drama kehilangan seorang yang sangat saya kasihi. Ketika kami tidak lagi bersama, saya tidak hanya kehilangan dia secara fisik, saya kehilangan perhatiannya, juga waktu yang biasa kami lalui berdua. Saya tidak sanggup membayangkan betapa besar duka yang dirasakan seseorang ketika pasangan hidup mereka harus pulang mendahului yang lain.

Tentang kehilangan, saya butuh waktu tidak sebentar untuk belajar menerima. Namun justru dari kehilangan saya bersyukur, bahwa seseorang pernah ada, bahwa masih banyak orang yang peduli dan mengasihi. Iya, roda itu berputar. Sama halnya analogi bayi yang baru lahir ke dunia, menangis itu tanda bahwa kita hidup. Saya pernah merasakan di bawah dan saya tidak bisa menghindar ketika suatu saat nanti saya ditempatkan di titik itu lagi. Lalu apa yang menguatkan saya?
Just as the season of the year continue, so do the cycles of lifebirth and dead, success and failure, sin and confession. Although we have no power to stop the clock while we're enjoying good times, We can rest in God's promise that eventually all bad times will end (Revelation 21:4). Julie Ackerman

Wednesday, April 24, 2013

Happy Belated World Book Day!





I read a book, therefore I am. There is no certain measurement to define either a good book or a bad one, not even from how many exemplars it was produced. For me a good book is one which pouring positive things in readers mind ― after I read them, life has never been the same again, or just simply make my day. Whether fiction or non fiction, those books give me a new mindset to facing the problem in life. And furthermore motivated me, push me to be a better person than I used to. Reading a book is habit, just as a cup of coffee to kick start a day. I'm a big fan of Sitta Karina and Dewi Lestari. They two could spread a spirit, love, thought, and even nationalism through their books. It's definitely captivated my heart! Happy Belated World Book Day! PF: 23 April 2013

Xoxo
Ninda


PICTURE: BY AUTHOR

Saturday, April 20, 2013

Line of The Week

"... but not every relationship is meant to last forever. And sometimes the best thing you can do is take a step back and give yourself a chance to breath" - Mom to Aria (Pretty Little Liars Season 3)

Thursday, April 18, 2013

17.55


           Genap sebulan ia menjadi pelanggan kedai “POJOK” Bu Wiryo. Entah apa yang membawanya datang kemari hampir setiap sore. Yang Abi tahu wanita itu selalu mengambil tempat yang sama di kedai ibunya, memesan minuman yang sama, dan pulang ketika senja menutup mata. Sore ini, seperti sore-sore sebelumnya, ia tengah membenamkan diri pada buku kecil bersampul coklat yang tak pernah lupa ia bawa. Pena di genggamannya menari lincah pada lembar-lembar terakhir di buku itu.

            “Ini kopinya, mbak. Coffeemix, airnya dikit, nggak pakai gula,” kata Abi sembari memindahkan gelas dari nampan ke atas meja. Kedai milik ibu Abi memang hanyalah kedai kecil yang menjajakan makanan dan minuman ala kadarnya. Tidak seperti kedai kopi di tengah stasiun yang memajang latte dengan berbagai pilihan syrup di buku menu mereka. Namun ketika ditanya, wanita yang juga kerap membantu Abi belajar itu menjawab lebih suka ke kedai POJOK karena suasananya lebih tenang.

            “Wah sudah hafal pesanan saya nih. Lho tapi Abi kok masih bantu-bantu? Kata ibu minggu ini ada ulangan umum? Nggak belajar?”

          “Belajar dong mbak. Sudah bawa buku paket sama buku catatan kok. Aku kan anak gaul stasiun, kayak embak,” tukas bocah yang baru duduk di bangku kelas 4 SD tersebut.

         “Hahaha! Emang saya kayak anak gaul stasiun ya, Bi? Hahaha…” Tak urung tawa itu pecah. “Makasih ya, kopinya.”

            “Mbak suka banget kopi ya? Kok nggak pernah nyoba kopi sachet yang lain tho mbak?

           Ia meraih kopi di hadapannya, kemudian mengulum senyum setelah tegukan yang kedua. “Saya kalau sudah jatuh cinta sulit berpaling ke yang lain, Bi. Walau cuma kopi sachet tapi mekanismenya sama,” tuturnya kemudian. Menyiratkan makna bahwa relasi antara ia dan kopi lebih dari dependensi.

            Abi manggut-manggut, meski yang ia tahu perihal cinta baru sebatas lirik lagu Coboy Junior dari DVD bajakan miliknya. Namun tiba-tiba pertanyaan yang selama ini Abi simpan kembali mengusik keingintahuannya. Akhirnya Abi memberanikan diri.

            “Berarti mbak jatuh cinta sama stasiun ini juga ya? Makanya hampir tiap sore datang ke sini? Stasiun kan ada banyak, mbak. Belum lagi kalau masuk peron sekarang harus beli tiket juga. ” Untuk ukuran anak seusianya Abi memang tergolong kritis.

            Ada suara berderit yang nyaris tak terdengar saat wanita itu memajukan kursi. Ia mengubah posisi duduk yang tadinya bersandar menjadi sedikit condong ke depan. Menciptakan jeda yang lebih ditujukan untuk diri sendiri.

            “Ummm saya dan stasiun ini punya cerita, Bi. Jadi dulu jam-jam segini saya sering naik kereta dari sini. Dulu sekali saya juga sering jemput teman dan malemnya saya anterin lagi ke stasiun ini.” Abi bisa meresakan gestur wanita di hadapannya berubah saat melavalkan kata teman. Fragile. Meski masih bau kencur Abi cukup cerdas menerjemahkan sebutan teman sebagai mantan pacar. “Jadi iya, saya mungkin jatuh cinta dengan cerita di stasiun ini.”

* * *

          Untuk kali yang ketiga Abi melirik ke arah jam bundar, satu-satunya ornamen yang menggantung di dinding ruangan itu. Setengah enam lewat. Sebentar lagi wanita yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri itu akan pulang. Abi ragu, apakah ia harus meminta maaf atas pertanyaannya yang lancang tadi. Dari balik etalase dengan beberapa bagian kaca yang sudah retak, Abi menonton siluet yang sama, wanita itu menatap udara kosong.

            Pk 17.55, sebuah kereta bercat kuning melintas di jalur empat. Ada detil yang selama ini luput dari pandangan Abi. Tatapan wanita itu berubah. Luruh. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesuatu di ujung mata agar tidak tumpah ke luar. Sepuluh menit kemudian kereta kuning itu berlalu, menyisakan dengung dari kejauhan yang sore ini terdengar sangat pilu di telinga Abi.

            Wanita itu menutup bukunya, lalu berdiri untuk memberikan beberapa lembar uang ribuan ke ibu Abi.

            “Maturnuwun, Bu. Saya pamit dulu,” ucapnya sembari tersenyum.

            “Sami-sami, mbak. Besok dateng lagi tho?” tanya Bu Wiryo.

          “Iya Bu, kalau nggak hujan. Soalnya sekarang sore suka hujan. Abi, mbak pulang ya, belajar yang rajin biar nilai ulangannya bagus.”

            Tidak secrigis biasanya, kali ini Abi hanya mengiyakan pelan.

Kini Abi tahu, wanita itu pulang bukan setelah senja menutup mata, namun setelah kereta Pk 17.55. Dan Abi tahu ke kota mana hati wanita itu ikut pergi.

            Segera, Abi beranjak dari tempat duduknya, mengejar sosok yang baru beberapa detik berlalu dari kedai ibu. “Hati-hati, Mbak Randu!” Setengah berteriak bocah itu mengucapkan salam.

           Randu membalikkan badan, membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum mengembang.


DISCLAIMER: Cerita di atas hanya fiktif belaka, saya persembahkan bagi jiwa-jiwa yang menolak untuk move on. Jika terdapat kesamaan nama, karakter, maupun cerita maka... ah sudahlah.

PICTURE: http://www.123rf.com