Thursday, September 8, 2011

Ensiklopedi

PARAGON CITY MALL, AGUSTUS 2011

             10 AM kami janjian bertemu, dengan cadas dua jam kemudian saya baru sampai di tempat. Si Ensiklopedi duduk manis dalam teater XXI. Mengalahkan cendol-cendol yang berbaris dengan cantik seperti ular. Tiket nonton sudah di tangan.

Me: “Lagi baca buku apa?”
Him: ”Filsafat. Lucu deh, Pen bukunya. Baru kali ini saya baca buku filsafat sambil ketawa-tawa. Hahaha…”
Me: ”Ohhh… ”
Him: ”Kamu harus baca buku ini! Hahaha…”
Me: ”Btw mau denger excuse ku? ”
         Saya nyengir.
Him: ”NOPE!!! ”
Me: ”Hahaha…

             Teman saya si Ensiklopedi kembali nyerocos tentang buku filsafatnya. Persis mbak-mbak yang terkena Korean fever ngomongin betapa unyu-nya Suju (Super Junior). Bedanya ini buku filsafat! Filsafat! People say: more reading then you will know more. I say: listen to him then you will know more, indeed!

Him: ”Setelah ini kita mau ke mana? ”
Me: ”I have no idea. Do you? ”
Him: ”Karokean? Ah tapi cuma berdua nggak seru. Kita kan nggak lagi dating. If I ask you, you absolutely reject me, ‘aight? ”
Me: ”Hahaha…

             Dia banyak membaca dan banyak bercerita. Si Ensiklopedi memaparkan berbagai hal dalam kacamata yang berbeda―sesuatu banget kata Syahrini―yang membuat saya berdecak “Oh!” sebanyak lima kali dalam lima menit.
             Kami terlibat percakapan alot tentang mengapa Harry Potter menjadi tokoh paling terkenal di Amerika, yang pada akhirnya tidak menemukan titik terang karena dia menjelaskan konklusi dalam American slang yang tidak saya mengerti. Oh! Dan tidak jarang saya merasa terjebak dalam ocehan bursa saham dimana saya benar-benar nol besar. Oh!
             Kami menganut keyakinan yang berbeda, namun Ensiklopedi berhasil membuat saya menemukan Tuhan dalam setiap percakapan kami.

Me: “Kamu kenapa dulu pindah agama? I just curious for a big time.”
Him: “Saya sudah mempelajari ke-lima agama di Indonesia loh. Semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan universal. Saya memilih yang paling baik menurut pandangan saya, diantara yang terbaik. Itu jawaban logisnya. “
Me: “Eh? Ada jawaban lain? “
Him: “Melalui kaca mata iman saya akan menjawab begini: Dulu saya berpikir sayalah yang mencari Tuhan. Namun pada akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan yang terlebih dulu mencari saya, memproses pribadi saya, menggiring saya untuk menemukan Dia. Dan proses mencari Dia itu saya lalui dari SD hingga SMA. “

             Dalam beberapa jam saja saya membaca melalui telinga tentang bursa saham, American slang, film, penyakit, legal, dan Tuhan.

Me: “Menurutmu bagaimana dengan biarawan dan biarawati yang hidup selibat? Kan manusia pada kodratnya diciptakan berpasangan? Lelaki dan perempuan? “
Him: “Karena orang yang hidup selibat itu mencerminkan kehidupan surgawi. “
Me: “Aku nggak ngerti…“
Him: “Apa yang kamu pikirkan waktu melihat pastor, romo, bruder, frater, suster? “
Me: “Mereka memiliki jiwa spiritual yang tinggi. Dekat dengan Tuhan. “
Him: “You got it! Dekat dengan Tuhan merupakan gambaran kehidupan surgawi. Di surga menurut iman percaya kamu dan saya, tidak ada hubungan suami istri. Kita hanya memuji dan menyembah Tuhan. Sukacita surga. Kehidupan surgawi seperti itulah yang berusaha mereka gambarkan di dunia fana ini. Pelayanan adalah panggilan hidup mereka. Yesus datang ke dunia untuk melayani orang-orang berdosa seperti saya dan kamu. Para biarawan dan biarawati juga sama. Melayani umat manusia. Supaya mereka dapat mencitrakan surga di tengah dunia yang amburadul ini. Menurutmu itu semua untuk siapa? “
Me: hening

             In our friendship we share everything: laugh, pain, stories, even a little musings about sex.

Me: “Kalau seks sesama jenis? Bukankah nggak adil bagi mereka yang dari sananya terlahir ‘seperti itu’?“
Him: “Entahlah. Sampai sekerang hal ini masih menjadi perguncingan. Tapi Allah kita kan tidak otoriter. Dia memberikan pilihan di tangan kita. We choose our own way. Tinggal pilihan seperti apa yang kita ambil, untuk itulah kita diberi akal dan iman. “
Me: “Hemmm“
Him: “Tapi menurut buku filosofi anatomi tubuh yang saya baca…“
Me: “Pardon me? Buku Filosofi Anatomi Tubuh? Ada buku seperti itu? DAN KAMU MEMBACANYA? “
Him: “I did. Hahaha…“
Me: “Kamu sa-kit ji-wa!!! “
Him: “Hahaha… Jadi Pen, dalam buku itu ditulis bahwa kodrat laki-laki adalah memberi dan kodrat perempuan itu menerima. Sama seperti penis dan vagina. Kalau laki ketemu laki, tongkat ketemu tongkat, berarti mereka kan sama-sama memberi. Itu salah. Seharusnya ya pria memberi, wanita menerima. Hukum alam. Harga mati.“
Me: “Oh! “
Him: “Ingat saat manusia pertama jatuh dalam dosa? “
Me: “Adam dan Hawa? “
Him: “Ya. Itu karena mereka menyalahi kodrat. Hawa ‘memberi’ buah pengetahuan yang baik dan yang buruk kepada Adam. Adam justru ‘menerima’. Si wanita ‘memberi’…“
Me: “…Si lelaki ‘menerima’. Oh! Lalu menurut mu free sex itu gimana? Kok rasanya ajaran agama bisa dikompromikan dengan budaya ya? Maksudku, di barat free sex dianggap sah-sah aja. Bahkan para teenagers menganggap diri mereka cool kalau udah having sex diusia 15 tahun. Mentang-mentang kita budaya timur, hal itu dianggap tabu. Bukankah ini kompromi geografis?“
Him: “Penonk, sebenarnya ajaran agama itu berlaku universal. No matter where. Dan orang-orang barat yang seperti itu adalah mereka yang telah meninggalkan gereja.“
Me: “Woooooooh! Hey, Ensiklopedi… Thankyou!“
Him: “What are you thanks for?“
Me:  For makes our whole conversation as a moment. “







Post a Comment