Tuesday, March 27, 2012

Cerita di Coffee Lighter

Mas Dinar


"Mas, saya pesan strawberry bomb ice."


Dia masih ingat minuman pertama yang dia pesan kepada seorang barista kribo saat memasuki kedai kopi dengan plang "Coffee Lighter" empat tahun lalu. Plang anyar itu tampak begitu menyilaukan. Bau cat nya masih baru. Strawberry bomb yang dia minum meledak-ledak di perutnya, bersinergi dengan hati dan otak. Orang pertama yang membawanya ke tempat ini adalah lelaki yang dia sebut kakak-ketemu-gede, kakak-kemarin-sore. Dia yang saat itu masih semester 2 tidak menyadari tengah terjebak dalam family zone, kakak-adikisme, cinta bertepuk sebelah tangan yang tertunda .

Dia berbagi banyak cerita dengan si kedai kopi. Dulu hampir setiap malam dia berhaha-hihi di sini dengan teman-temannya, mengenal seseorang yang kini ia labeli "masa lalu". Semuanya seakan baru terjadi kemarin.

Dia menegak rum pertamanya dalam racikan Jamaican Coffee. Hangat. Salah satu favoritnya. Refleksi dari ambience yang dia rasakan saat itu. 

Di kursi yang kini kakinya sudah pincang dulu dia dan si masa lalu duduk berdekatan, dengan tangan saling menggenggam pada kali yang pertama. Meja kayu yang kini payungnya sudah hilang, dulu begitu gaduh menciptakan bunyi BRAK BRUK! saat dia bersama teman-temannya bertarung sengit dalam  permainan kartu yang mereka sebut "gebrakan".

Empat tahun dan banyak hal berubah. Dulu mereka menghabiskan malam meributkan gossip tentang si ini yang ternyata naksir sama si itu, sekarang teman-temannya sudah berbicara tentang investasi.

Empat tahun dan banyak hal berubah. Dulu dia dan lelaki itu memulai kisah mereka di disini hingga akhirnya berpisah satu sama lain tanpa pernah berpamitan pada si kedai kopi.

Empat tahun dan banyak hal berubah. 
Plang "Coffee Lighter" yang dulu menyala begitu terang, kini tampak redup dan usang. 
Sweet seventeen yang dulu terasa manis, kini cuer dan "seadanya" tanpa garnish di gelas bibir. 
Black dog yang dulu bisa bikin melek semalam suntuk, kini hanya mengganjal mata tak lebih dari satu jam. 
Mas Dinar, si barista kribo pemilik kedai kopi, kini rambutnya sudah berubah lurus, korban rebonding. 
Baby Afro, anaknya Mas Dinar yang dulu masih digendong sana-sini, sekarang sudah mau masuk TK dan bisa diajakin kiss bye.

* * *

26 Maret 2011

"Mas, ada UNO nggak?" tanya dia pada si barista
"Kan kalian dulu biasanya bawa UNO sendiri. Hehe..." si barista nyengir kuda pertanda sejak empat tahun lalu nggak juga beli kartu UNO.

Empat tahun dan dia tahu banyak hal  berubah, kecuali satu: Coffee Lighter (masih) nggak punya kartu UNO.

* * *

Oktober 2008

"Hun, ayo pulang!" dia merajuk, setengah memaksa.
"Kosan kamu uda ditutup ya? Bentar, Hun aku bayar dulu," jawab lelaki itu.
"Lhoh baru jam 12 kok tumben udah mau pulang?" Tanya Mas Dinar.
"Iya tuh, Mas. Payah mereka!" Teman-temannya bersorak dalam nada huuuu yang sama.
"Hehe, bini nih mas. Kosnya nggak bisa sampe malem. Lagi nggak ada tempat transit," kata lelaki itu lagi, apa adanya.

Post a Comment