Thursday, March 12, 2009

TITIK BUKAN KOMA

"Seseorang seharusnya bersama karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutan akan sepi" (Rectoverso - Dee), sebuah kalimat yang pagi ini telak menohokku. Aku tahu kali ini adalah final. Kami berdua merasa kelelahan yang sama. Mungkin selama ini aku terlalu egois dengan memaksakan diri. Mencoba mengerti padahal sama sekali tak mengerti dan terus menuntut untuk dimengerti.

Perbedaan itu indah, ada yang berkata demikian dulu sekali. Berbeda untuk saling mengisi. Namun kini aku tahu akan satu hal, ternyata ada perbedaan yang tak bisa dipersatukan. Layaknya aku dan dia. Kami tidak bisa saling mengisi dalam wadah yang berbeda. Mungkin rasa sayang kami akan jauh lebih indah untuk diwujudkan bukan dalam status "pacar". Cintaku dan cintanya terlalu egois dalam ikatan itu.

Aku lelah membuatnya jenuh.
Aku lelah membuatnya marah.
Aku lelah melihat ekspresi malam itu.

Aku ingin menjadi seorang yang berbeda dengan si 5 tahun itu, si 1 tahun itu, dan gadis-gadisnya terdahulu. Aku berpikir bahwa aku bisa. Dan sekarang harus kuakui kalau aku gagal.

"Aku uda menawarkan untuk kita sama-sama lagi tadi, Nin, tapi kamu bilang ga bisa. Dan aku ga bisa untuk menunggu yang ga pasti," katanya.
Aku terhenyak. Ternyata di matanya aku adalah sesuatu yang 'ga pasti' itu. Bukan salahnya, tapi salahku. Mungkin salahku karena merasa harus kecewa mendengar pernyataan itu. Pada awalnya aku berpikir bahwa rasa cinta itu berbeda, sehingga ada pengecualian dalam hal menunggu. Tapi ternyata aku sama saja dengan yang lain, setidaknya itulah kesimpulanku.

Sakit ketika keputusan berpisah itu akhirnya mencapai garis akhir. Saat kami harus berjalan dalam setapak yang berlawanan tanpa bisa menjaga satu sama lain. Saat cinta dan sayang masih sama-sama ada namun tak kuasa untuk menyatukannya.
"Aku juga masih sayang sama kamu. Tapi kalau rasa sayang itu hanya membuat aku dan kamu sama-sama sakit, mungkin harus berakhir seperti ini," lontarku tanpa dia tahu bahwa jauh di sana aku menangis.

Kami berpisah bukan dengan sisa cinta yang ada, namun dengan segenap cinta yang kami tahu masih benar-benar ada. Dalam keadaan dimana aku belum bisa untuk sekarang, dan dia tidak bisa menunggu nanti. Kami kehilangan.

Sekali lagi, ini bukan kesalahannya, melainkan kesalahanku ketika aku kecewa akan perbedaan persepsi kami dari arti kata 'menunggu'.

Seandainya kamu membaca postingan ini, aku ingin kamu tahu bahwa nggak selamanya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan seketika itu juga. Aku tahu kamu adalah seorang tuan muda yang terbiasa untuk itu. Tapi terkadang kita perlu menunggu sebagai bentuk pengorbanan untuk hal besar yang ingin kita genggam kelak. Atau kau akan kehilangannya sama sekali, tanpa tahu apapun...

Aku sayang kamu.
Aku cinta kamu.
Aku berterima kasih untuk kehadiranmu selama 5 bulan 10 hari ini.
Tapi saat ini tanganku sudah tak sanggup untuk tetap menggenggam kita.

Kamu tahu, seperti aku tahu, bahwa aku tak menginginkan perpisahan seperti ini. Aku masih berharap akan ada 'koma'. Tapi toh aku harus menghargai keputusanmu yang menginginkan 'titik' ketika kita bersebrangan dalam hal menunggu.

Sungguh, seandainya kamu membaca postinganku, aku ingin kamu tahu bahwa dalam postingan ini aku benar-benar ingin menulis TO BE CONTINUED pada baris terbawahnya. Dan maafkan aku ketika pada akhirnya aku terpaksa untuk menulis...


THE END
Post a Comment