Thursday, July 22, 2010

Jaring


We can love two person at the same time, but never at the same degree.

Kata-kata itu terus menjejali benak dia dengan penyesalan yang amat sangat. Tapi toh dia telah memilih. Saat itu dia marah pada keadaan. Mengapa harus berputar untuk mencapai satu sama lain?

Dan kini terduduklah dia di sebuah kota asing, dengan langit berkabut oleh bias cahaya gedung dan mesin yang berdengung. Bukan penyesalan, namun kehampaan. Dia benci setiap jengkal yang pernah dia lalui bersama orang itu. Setiap tempat yang pernah dia singgahi. Setiap moment yang boleh terjadi. Setiap percakapan yang dulu bertaut dengan rima yang lucu.

***

"Sebenarnya aku sudah melihatmu dari dulu"

"Sejak kapan?" tanya dia

"Waktu kamu masih dengannya."

Hening.

"Awalnya aku simpati. Aku nggak bisa lihat cewek diperlakukan seperti itu. Aku sering membicarakanmu tanpa sadar. Lalu aku berusaha mendekatimu. Tahun lalu. Kamu bergeming. Aku sadar kamu masih bersamanya, lalu aku mundur."

Dia tercengang. Sama sekali tidak menduga "itu" dalam mimpinya sekalipun. Perlahan dia merasakan aneh dalam perutnya. Mulas? Tergelitik? Dia merasakan kepakan sayap kupu-kupu bersinggungan dengan dinding perutnya. Wow!

***

Sudah beberapa bulan berlalu, masih terpapar dengan jelas Jogja di malam hari bersama orang itu di depan mata dia.

Mereka berjalan begitu bebas, bahkan kerikil tidak sanggup menyakiti kaki mereka yang telanjang sekalipun. Menikmati sesuatu yang sepertinya akan berakhir ketika mereka tidak lagi di kota itu. Orang itu menyebut Jogja sebagai "kawasan bebas ranjau". Dia tertawa mendengar istilah itu.

"Ndut?"

Eh?

"Sayang ya besok kita harus pulang. Coba bisa disini terus. Aku pengen seperti ini aja," lanjut orang itu

Si kupu-kupu kembali mengetuk-ngetukkan kakinya di perut dia. Hendak menari lagi.

Hanya ada kamu dan aku. "Iya ya ndut," jawab dia keki.

Mereka merutuki malam yang begitu cepat pergi. Cepat atau lambat mereka akan mendapati pagi. Dan mereka sama-sama tahu arti dari "pagi" yang berarti kembali.

***

Saat itu pagi.

Dia tidak percaya apa yang didengarnya. Hati dia perih saat memohon pada Nya agar semua hanya kesalahpahaman saja.

"Ndut, kamu udah punya pacar ya?" tanya dia. Dia telah memintal hati dia saat pertanyaan itu terucap.

Sakit.

"Kita ketemu ya, Ndut. Aku mau jelasin semuanya."

Gelap. Moment dia dan orang itu terasa omong kosong. Malam-malam laknat.

Orang itu terus mengatakan ia mencintai dia. Ia lebih nyaman bersama dia. Wanita yang di sisinya hanya pelarian dari Dia.

"Keadaannya sulit. Kamu tahu. Lebih baik ini disimpan aja ya. Aku sayang kamu, nggak mau kehilangan kamu. Seenggaknya aku pengen jadi orang yang terdekat buat kamu."

Hahahahahahahaha...

"Kamu seperti ini justru nyakitin banyak orang, Ndut. Kamu nyakitin aku, nyakitin pacarmu, dan nyakitin dirimu sendiri," kata dia lagi. Nanar. Dia merasakan kupu-kupu itu pergi. Ada jaring menyebalkan yang hendak memonopoli si kupu dan merenggutnya dengan paksa dari perut dia. Semuanya, tanpa terkecuali. Mereka pergi dan hanya menyisakan tapakan kaki di tempat dulu mereka menari.

Keadaan. Dia menyalahkan keadaan, orang itu menyalahkan keadaan.

***

22 Juli 2010. Dia kembali disuguhkan dengan keadaan. Orang itu kembali hadir dalam layar kecil di hadapannya. Berdampingan.

Aku jijik melihat ini!

Dia memandang lukisan kedua orang jatuh cinta dengan perasaan tanpa cinta. Dia sadar dan tahu sepenuhnya, untuk tidak menyimpar akar pahit itu dalam waktu yang lama. Tapi dia hanyalah manusia biasa. Tak sempurna dan tengah kehilangan asa.


 

Jakarta, 22 Juli 2010
Post a Comment