Sunday, March 2, 2008

KOPI




“Kau begitu mencintainya…” kata dia yang kini terduduk di sebelah si cempluk berkulit coklat. Bukan sebuah pertanyaan. Melainkan pernyataan.

Hhh… Keduanya mendesah. Dalam sepersekian detik yang sama. Untuk alasan yang hampir sama pula.

Mereka diam. Sibuk membenahi perasaan masing-masing, di mana yang satu merasa dirinya paling merana dari antara yang lain.

“Si hitam itu akan membuatmu retak,” kata dia lagi, kali ini dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Cempluk tetap bungkam. Rasio membenarkan apa yang dia katakan. Cempluk tahu melebihi siapapun, kalau ia tetap bertahan bukan hanya retak, tetapi pecah. Dan apalah esensi sebuah pecahan kalau tidak teronggok bersama sampah?

Namun bukankah antara cinta dan rasio berdiri sebuah dinding pemisah? Suara lain muncul membenarkan perasaan yang kian bergejolak.

Dia kembali berpaling pada si cempluk. Memberikan sebuah tatapan yang berbeda. Dia memohon.

“Kepinganku kelak akan tetap mencintainya.” Untuk kali pertama cempluk angkat suara. Menyatakan kalau ia siap hancur untuk yang tercinta. “Gesturnya memang panas membakar kulitku. Namun ada kelembutan dan keharuman di sana.” Pikirannya mengawang. Kedua ujung bibirnya membentuk sebuah garis lengkung. “Ia selalu meninggalkan bekas untukku. Meski untuk mendapatkannya aku harus selalu merasakan sakit yang sama, aku rela.”

Dia menghela nafas. Entah untuk yang keberapa kalinya. Seluruh tubuh dia mulai bergetar, membuat meja dari mahoni tua itu turut berderak ke kanan dan ke kiri. Semenjak menjadi penghuni tetap coffee shop berkonsep minimalis itu, dia telah menautkan hatinya pada Cempluk. Menghabiskan harinya bersama Cempluk, tertawa, menangis, berkelakar bersama Cempluk. Bagaikan bertemu belahan jiwa. Dia bisa merasakan cinta, begitu juga halnya Cempluk, terlepas dari mereka yang hanya sepasang cangkir kopi.

Tapi satu yang dia tak mengerti, mengapa Cempluk tak bisa mencintainya. Padahal mereka sama. Sepasang cangkir kopi. Yang tiap hari harus merasakan panasnya cairan kental nan pekat itu, serta beristirahat dalam sebuah rak kayu yang sama ketika kedai telah tutup.

Mereka sama.



Kata ‘sepasang’ itu sudah lebih dari bukti, bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama.
Sayang, Cempluk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Cempluk merasa dirinya tak sempurna tanpa cairan yang orang sebut dengan ‘kopi’. Ia bukanlah cangkir kopi tanpa kopi di dalamnya. Ini yang tak pernah dimengerti oleh dia. Bahwa segala sesuatu yang sama bukan tercipta untuk saling melengkapi. Ia hanya butuh kopi.

-Untuk si pecinta Kopi-
Post a Comment