Wednesday, July 10, 2013

#JuliNgeblog #Day10: Urbano Princesa


Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir cinta.
***

“Emang masalah buat dia kalau hampir tiap pagi gue minum kopi  empat puluh ribuan?!” nafasnya naik turun. Kesal.

Woa woaEasy girlThe point is you were late yet had coffee on your hand. Yauda sih cuekin aja.” Sarah, teman kantor yang juga sahabatnya berusaha cooling down.

“Iya  tadi gue telat, tapi negurnya nggak gitu lah. Even Miranda Priestly did better.”
***

Monday always comes every week.  Seninnya tak pernah sesuram ini. Tidak sebelum boss hasil hijack-an dari ‘perusahaan tetangga’ menjadi anggota baru di tempatnya bekerja.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya, Pk. 07.20. Masih ada waktu untuk me time. Stiletto 9 cm tak pernah menyurutkan niatnya mampir ke kedai kopi berlogo putri duyung di gedung sebelah. Frekuensinya ngopi di Sbucks sering membuat ia dicap hedon oleh beberapa teman kantornya. But like she cares. People judge people. Ia dan kopi punya history. Nggak semua orang bisa paham itu.

“Buat dateng meeting lo selalu telat, tapi buat secangkir produk kapitalis―kopi empat puluh ribuan tiap pagi lo bisa on time. What an Urbano Princesa!”

Urbano Princesa, huh? Teguran sarkatis itu masih ia ingat dengan jelas. Seakan baru kemarin sore. Bagaimanapun seorang pemimpin itu harusnya ngayomi, respect sama bawahan. Bukan malah…

Sosok tiga orang lelaki di meja paling ujung kontan membuyarkan lamunannya. Bukan, bukan karena mereka kumpulan eksmud kece dalam balutan Rolex atau Tag Heuer dengan kemeja lengan panjang digulung. But because one of them―that cool bastard  has hurt her ego.

What on earth...” Dari kejauhan ia memekik halus ke arah si boss.

Nyaris berlari ia menuju ke arah sang barista. Tak mengacuhkan tatapan risih beberapa pengunjung atas suara teplak teplok dari heels yang ia kenakan. Setelah memesan iced café mocha tanpa lupa meminta size nya di-upgrade, ia mengambil meja di ujung berlawanan. Ingin menikmati kopi tanpa distraksi.

You hate the taste of coffee but you need the pick-me-up, so you improvise.”

Oh please, not this morning. “Pardon?” Ia mendongkak ke arah datangnya suara. Ah bagaimana ia tidak hafal suara menyebalkan yang sudah hampir dua bulan ini selalu mencecar project nya?!

Lelaki itu tersenyum, namun tampak seperti seringai. Dualitas yang sempurna antara tampan dan menyebalkan. “Those mocha a type of person. What your coffee says about you.” Dagunya menunjuk ke arah kopi di meja yang sudah setengah kosong. “Read somewhere.” Si lelaki menambahkan.

Damn! Ia merasa ditelanjangi melalui kopi paginya. What could be more ironic than this circumstance?

Haha. Gotcha! Dalam hati lelaki itu merasa di atas angin. Sedikit menikmati ekspresi wanita yang menurutnya sangat impulsive namun kini hanya bisa bergeming.

See you at office, Urbano Princesa.” Ia sudah hendak pergi, namun si lawan bicara tiba-tiba menyahut.

“Ruby. Just in case lo lupa, nama gue Ruby, boss.” Ruby sengaja memberi penekanan ketika memanggil lelaki di hadapannya dengan sebutan ‘boss’.


Hanya butuh sentilan kecil, kilatan di mata Ruby langsung kembali. Meledak-ledak dan agresif. Deep down inside, Raka menikmati hal itu. Ia pun terkekeh.




PICTURE: HERE
Post a Comment