Saturday, July 20, 2013

#JuliNgeblog #Day20: Frappucino Darling



Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir persahabatan
***

You love coffee, don’t you?”

“Hemmm.” Hemmm-nya terdengar in denial. Sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya.

Mungkin kali ini dia sudah malas berdiplomatis, atau mungkin dia tidak benar-benar mencintai kopi.
***

Halte busway pada malam Sabtu tak pernah se-crowded ini.  Aku sampai kewalahan untuk mengambil hp di dalam tas yang sedari tadi nyolot minta diangkat.

Adriana Soebagio calling…

“Yes, cyin?” sapaku sambil sedikit ngos-ngosan. Beginilah nasib wanita urban yang harus struggle di atas hak sepatu 7 cm nya.

“Lo dimana, beb? I need your favor.”

“Harmoni. Nunggu busway. Gimana?”

“Ntar gue ke rumah. Temenin gue arisan di Union, okay?”

“Ha? Gue mana cocok masuk inner circle lo itu?! Ajakin si…”

“Lo siap jam 8. Dandan cantik. Muah!”

KLIK. Telepon ditutup.
***

Kadang pusing sendiri melihat polah Adriana. Tiap bulan harus dikejar target ratusan juta rupiah lah, ngemis dari nasabah A sampai nasabah Z, belum lagi arisan dengan socialite ibukota. Tapi aku tahu betul sahabatku. Dibalik Herve Leger itu masih ada Adriana ber-sneakers dan jeans belel yang dulu kukenal.  Hanya saja kini ia sedang menunjukkan sisi yang satunya.

“Aaakkkkk gue butuh kopi!!! Kita ngopi bentar ya, beb?”

Baru mencicipi main course seiprit, Adriana sudah kode ngajakin balik. Jadilah kami pulang dari Union dengan perut keroncongan dan terdampar di salah satu coffee shop di daerah Selatan.

“Gue sebenernya agak nggak nyaman sama geng arisan tadi. Tapi ya gimana lagi, tuntutan profesi,” ucapnya sambil sesekali menyendokkan ice cream dari atas kopi ke dalam mulut. Lumrahnya arisan heboh merupakan a little escape bagi wanita karier super sibuk seperti Adriana. Ini justru sebaliknya. Ia jauh dari sosok the arisan darling.

“Lo nggak pesen makan?” tanyaku dengan mulut penuh.

Nope. Kenyang. Gue cukup kopi aja.” Saat di Union tadi Adriana terlalu sibuk berhaha-hihi sampai makanannya tak tersentuh.  Sekarang pun dia hanya pesan… frappucino? Oh come on, young lady!

"Hhhhhh..." Adrianna menghela nafas. Dramatis. “Gue capek sama kerjaan. Bla bla bla…”

Here we go! Adriana seorang story teller yang handal. Kalau dia sudah curhat perkara kerjaan, yang denger bisa ikutan capek luar dalam.

“Yauda resign. Buat apa kerja tapi nggak happy? Cuma karena prestige? Lo itu lebih cocok jadi copy writer daripada banker. Have a faith on your passion, my dear!”

Ia langsung diam. Sepertinya ucapanku barusan merupakan sebuah tamparan keras. Ah seharusnya sudah kulakukan dari dulu.

“Gue happy kok jadi banker."

"You are pretending to be happy."

"Nggak semua orang bisa masuk treasury, beb. Gue hari ini cuma… ummm… capek aja.”

“Iya nggak semua orang bisa masuk treasury, karena nggak semua orang punya nama belakang Soebagio!”

Tamparan kedua.

Adriana mengaduk-aduk kopi di hadapannya. Kesal. Setelah ice cream di atas kopinya habis, ia meneguk sesekali kemudian menyingkirkannya ke ujung meja.

 “You love coffee, don’t you?”

“Hemmm.” Hemmm-nya terdengar in denial. Sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya.

Hahaha You are so frappucino kind of girl, you claim to love coffee, but you don't. You just like an ice cream.”

Tamparan ketiga. Sorot mata itu tampak lelah. Mungkin kali ini ia sudah malas berdiplomatis. Atau mungkin ia memang tidak benar-benar mencintai kopi.




PICTURE: HERE


Post a Comment