Wednesday, July 17, 2013

#JuliNgeblog #Day17: Latte


Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang biji kopi dalam secangkir cinta.
***
Jogja, 2007

Rain Stick? Nama yang cukup hipster-melo-dramatis  untuk sebuah coffee shop. Tidak terlalu besar, namun homey. Letaknya yang bersebelahan dengan kampus ISI membuat pengunjung dapat menikmati live music secara cuma-cuma. Ku Yakin CInta - D’cinnamon dan dentuman jimbe terdengar samar dari seberang sana. Membuatku larut pada sesuatu yang entah apa.

“Cobain punyaku, ndut.” dIa menyodorkan minumannya sementara aku masih terlihat bingung menjelajahi buku menu.

“Ini apa, mas?”

Latte. Feel free to slurp.”

Dan sejak saat itu aku mencintai kopi.
***

People say good coffee is like friendship… rich, warm, and strong. What if ours is not friendship anymore? Is it does matter?
***

Bandung, 2013

Enam tahun berlalu sejak kopi pertamaku. Aku yang waktu itu masih semester satu terlalu lemah melewati cobaan family zone. Dia membuatku jatuh cinta pada kopi atau mungkin sebaliknya. Kami terjebak kakak-adik-isme dalam jangka waktu yang cukup lama. Hingga salah satu diantara kami, aku, mengubah status quo itu menjadi one side love.

Things turned out not like the way I want it would be. Akhirnya kami mempunyai pasangan masing-masing. Perlahan saling melupakan dan mengakhiri hubungan yang bahkan tidak pernah dimulai.

Namun hari ini tampaknya semesta berkonspirasi mengulik kembali unfinished business beberapa tahun lalu. Kami bertemu.  

“Kamu di Bandung nginep dimana, ndut? Nanti malem ngopi, mau? Kujemput.”  “Errrrr berdua aja ya tapi,” tambahnya buru-buru bahkan sebelum aku mengiyakan.
***

“Kamu masih jalan sama yang dulu?” Dia membuka percakapan.

“Enggak, udah lama putus,” jawabku datar.

“Terus sekarang sama siapa?”

“Nggak lagi sama siapa-siapa. Jadi hidden agenda ngajakin aku ngopi cuma buat interogasi perkara love life ku?” Aku manyun. Merasa dikonfrontasi.

“Hahaha… Ambekan…”

Aku masih manyun.

“Kebaca ya? Yes, I’m checking.” Dia tersenyum. Namun tidak ada nada bercanda seperti sebelumnya.

Matik!

Vanilla latte?” Suara si barista memecah kecanggungan diantara kami.

Please.” Setelah meletakkan latte didepannya dan hot Americano untukku, si barista segera berlalu. Meninggalkan kami dalam bisu.

Seolah tau aku merasa tidak nyaman, ia pindah untuk mengambil tempat di sebelahku. Tangannya kemudian menggenggam jari-jariku yang mulai dingin bukan karena udara Bandung. “Dingin?”

Ah retoris. Namun aku hanya mengangguk-angguk tolol.

“Kamu masih suka latte, mas?” Dari sekian banyak tanda tanya, justru pertanyaan inrelevan itu yang keluar.

“Yup!”

Genggamannya semakin erat. Intens. Membuat banyak hal tampak kabur. “You have something in common with your coffee,” aku mulai berkicau.

Am I? HahahaTry me!”

A latte person. You don’t want to take a risk so that you stay on your comfort zone. Sometimes a good thing comes from  unexpectedness, but you are too afraid to confront it.

Setelah itu hening. Kami resmi terjebak nostalgia.




 PICTURE: HERE
Post a Comment