Friday, July 22, 2011

Light Pollution #4

#EMPAT


I try to run from your side, but each place I hide only reminds me of you…

(MYMP - Only Reminds Me of You)

“Aku minggu depan ke Jakarta. Kita ketemuan ya. Kangen udah sebulan nggak ketemu.”

“HAH? SERIUS?!” Tanya saya.  Seperempat sangsi, tiga perempat sisanya berharap kuping lagi nggak eror.

“Seriuslah, Jelek…”
* * *
Saya senang berada di kota biang macet bernama Jakarta. No matter what people say      Kesumpekan ibukota justru membantu saya melepaskan diri dari penatnya Solo. Ah sebuah paradoks yang lucu memang.
      
Saya mencoba bersembunyi. Dari Solo, dari kampus, dari dia.
      
Kesalahan saya cuma satu: Jakarta. Kotanya dia. Tempat dimana dia (dulu) banyak bercerita. Dan tinggal beberapa hari lagi dia akan datang ke tempat persembunyian saya. Permainan petak umpet inipun harus segera diakhiri. Susah payah saya merangkak keluar dari bilik bernama ‘pelarian’.
* * *
“Kita mau ke mana?”
“Lebak Bulus. Aku mau kasih lihat rumahku dulu, juga tempat nongkrongku.”
      
Pada akhirnya sampailah kami di sana, sebuah komplek perumahan PU di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di pengkolan itu bercokol pos ronda yang tampak cozy meski hanya terbuat dari bambu, warung kecil dan abang tukang jual ketoprak. Ada banyak lelaki seumurannya yang dia sebut sebagai ‘anak-anak kompleks’, menunggu kami turun dari mobil.
      
Tatapan ‘cieh cieh’ mereka menyambut kami.
      
“Halo… Ninda…” Saya memperkenalkan diri.
     
“Oh jadi ini yang namanya Ninda Ninda itu. Yang ngekos di belakang Ambas kan?” Lelaki yang dipanggil Palak nyamber kayak ember bocor.
     
Eh?
      
Agak keki, saya tersenyum mengiyakan. Padahal dalam hati sudah nari hula-hula persis ABG labil kegeeran.

Akhirnya kami menghabiskan malam bersama anak-anak kompleks dengan bermain futsal. Dia memperkenalkan saya ke semua teman-temannya. Mengijinkan saya memasuki ranah masa lalunya. Seperti membaca sebuah diary terbuka, saya membaca dia.

Jam 2 subuh dia mengantarkan saya pulang. Setelah memarkir mobil, kami berjalan menyusuri gang kecil hingga akhirnya sampailah saya di depan kos.
     
 “Makasih ya, Jeleg buat hari ini,” kata saya
     
Dia mengelus rambut saya yang saat itu terurai dan sedikit lembab karena udara malam. Kemudian bibir kami bertaut lembut, dalam sepersekian detik yang begitu singkat, tanpa tendensi apapun selain “Good night…” ucapan selamat malam.
     
 “Good night…” saya membalas berbisik.
      
Di bawah langit malam yang bias oleh cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit…
      
Diselimuti udara yang begitu dingin menyengat kulit…
      
Pada sebuah gang kecil bernama Jl. Pedurenan Masjid…
      
Dalam ambience light polution tersebut saya mengecap manisnya Jakarta.


Empat: Saya menyimpan detail itu dengan nama  “Jakarta road kiss” :)
Post a Comment