Sunday, July 17, 2011

Light Pollution

#SATU


      Juli 2010. Tepat setahun yang lalu saya berangkat magang ke Jakarta. Seorang diri, bermodal tampang yang dibuat “Gue anak gahol Jakarta loch! Macem-macem gue kepet nih!” Padahal nonsense. Ngeluarin hp di tengah keramaian aja takut-takut.
      Hari pertama, mencari kos. For the God’s sake! Saya merasa harga kosan di daerah Kuningan semuanya sakit jiwa! Rata-rata 1 juta keatas perbulan yang saat itu 3x lipat dari harga kos di Solo. Itu saja untuk level kos abal-abal yang (maaf) bentuknya lebih mirip kandang babi. Buat minum es teh saya harus bayar Rp 3.000. Kalau di warung Bu Cokro (warung dekat kosan saya di Solo) pasti sudah dapat nasi sayur plus tempe.

Satu: Di Jakarta semuanya mahal. Tidak ada yang gratis kecuali teh tawar panas di warung padang.


#DUA


      Dalam bayangan saya, seorang Public Relations pastilah so perlente, yang kalau lagi jalan high heels 12 cm nya menimbulkan sensasi “Teplak teplok teplak teplok”. Cool!
      Berhubung magang di bagian corporate communication XL  Jabodetabek, jadilah saya membranding  penampilan layaknya mbak-mbak PR. Dua puluh menit saya jalan kaki dari kos sampai ke kantor dengan high heels 7 cm. Saya berasa uwow!
      Sampai di kantor saya merasakan sensasi terbakar cenat-cenut di telapak kaki. Ah tampil cantik itu memang butuh proses yang menyakitkan. Hari kedua saya masih memaksakan diri. Hasilnya luar biasa… Kalau ada pepatah surga ada di telapak kaki ibu, saat itu rasanya neraka ada di telapak kaki saya.
      “Mbak, kaki ku lecet semua gara-gara pakai high heels pulang pergi kantor,” keluhku pada si boss.
      “Lho kenapa nggak pakai sandal jepit aja, Nin? Sampai kantor kan bisa ganti.”
      Hari ketiga saya mengikuti saran atasan. Untuk beberapa hari kaki saya terselamatkan karena kerjaan saya bisa stay di dalam kantor. Sayang takdir tidak berpihak pada kaki saya yang sedang dalam masa penyembuhan. Pk 10.00 pagi itu saya harus mengikuti Indonesian Cellular Show (ICS) yang diadakan di Jakarta Convention Center (JCC) dimana XL sendiri mendirikan booth. Setelah itu saya langsung ambil bagian dalam press conference. Jadilah saya berdiri berjam-jam, muter-muter JCC, naik turun tangga dengan high heels 7cm itu. Dan acara tersebut berlangsung selama tiga hari.
      Kaki saya sukses meleleh. Melempuh dan muncul semacam cairan panas di dalamnya.
      “Mbak, kaki ku lecet parah,” aku mengadu untuk yang kedua kali pada si boss.
      “Nggak biasa pakai high heels ya?
      “Iya, nggak biasa pakai high heels buat berdiri dan jalan-jalan kelamaan. Hiks…”
      “Terus kenapa dipaksain?”
      “Kan aku magang di divisi PR, mbak,” jawabku apa adanya.
      “Hahaha… Nin... Nin…” Boss tertawa seolah saya konyol sekali. “Besok pakai flat shoes aja.”
      “Tapi kan kurang gimana gitu mbak. Biasanya PR kan pakainya hak tinggi…” Saya masih berargumen.
      “Ini aja aku pakai flats,” kata boss sambil menunjuk ke arah sepatunya. Aku diam. “Kalau aku memang nggak terlalu suka high heels, Nin. Paling tinggi ya kitten heels yang 2-3 cm gitu. Kalau cantik di luar tapi jalannya mringis-mringis kesakitan kan malah nggak enak dilihat. Hahaha…”

Dua: Penampilan memang penting, tapi membuat nyaman diri sendiri adalah yang utama. Apapun profesi Anda.
Post a Comment